Meneropong Revolusi Industri 4.0 di Indonesia

banner 160x600
banner 468x60

Meneropong Revolusi Industri 4.0 di Indonesia
Oleh : Ahmad Sukron (Peneliti The initiative Institute)
Alumni PP. Syaichona Moh. Cholil

Hakikat Revolusi Industri
Menurut Gillin-Gillin, revolusi merupakan perubahan sosial sebagai cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan geografi, materi budaya, komposisi penduduk, ideologi dan penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Sedangkan menurt Koentjaraningrat, revolusi merupakan usaha untuk dapat hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia dimasanya.


Mengutip pernyataan kedua tokoh tersebut, revolusi dapat disimpulkan sebagai sebuah fenomena perubahan sosial maupun budaya yang berjalan sangat cepat dan melibatkan kebutuhan dasar manusia dalam menjalani kehidupan.


Terjadinya Perubahan revolusi, bisa dilakukan dengan proses perencanaan dan bisa tidak direncanakan, begitu juga bisa melalui tanpa adanya gesekan yang menimbulkan konflik, dan juga bisa dilakukan dengan desain melalui kekerasan yang berakibat pada konflik yang berkepanjangan.


Proses revolusi membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sebagaimana yang pernah erjadi di negara Inggris. Akan tetapi, meskipun membutuhkan waktu yang lama, revolusi dinegara Inggris dianggap cepat dan singkat. Hal ini dikarena keberhasilan revolusi indutri di inggris dianggap berhasil dan mampu mengubah sistem kebutuhan dasar masyarakat melalui interaksi antar pekerja dengan pengusaha (perusahaan) yang berjalan kurang lebih satu abad.


Tahapan Revolusi Industri
Terjadinya revolusi industri dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, atau yang sering disebut revolusi industri 1.0, revolusi industri 2.0, revolusi industri 3.0, dan terakhir adalah revolusi industri 4.0.


Munculnya revolusi industri 1.0 pertama kali di Inggris Raya pada tahun 1760 sampai dengan 1840. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan proses manufaktur dari tenaga manusia ke mesin. Seperti penemuan tenaga Uap oleh ilmuan yang bernama James Watt pada tahun 1764. Kemudian pada tahun 1783 Marquis de Jouffroy yang mampu menciptakan Mesin Uap penggerak kapal. Disusul oleh Richard Trevithick yang mempu menciptakan Lokomotif Uap pertama.
Akibat revolusi indutri 1.0 tersebut telah terjadi pengangguran massal yang menyebabkan demonstrasi besar-besaran yang menuntut lapangan pekerjaan. Disisi lain, bagi para pengusaha, menggunakan alat technologi dianggap lebih menguntungkan, karena pekerjaan dengan menggunakan tenaga mesin lebih efektif dan lebih murah. Tentu keuntungannyapun juga lebih besar.
Revolusi industri 2.0 terjadi pada tahun 1840 sampai dengan 1870, dengan ditandainya perubahan penelitian listrik. Dari keingintahuan tentang ilmu Sains, bergeser ke proses produk penelitian listrik yang bermanfaat terhadap kehidupan modern. Diantara tokoh-tokoh yang berjasa pada masa itu adalah, Ernst Werner Von Siemens (1843) yang mampu menciptakan Telegraf kode Morse, Thomas Alva Edison (1870-1879) yang mampu menciptakan Telegraf pita Kertas dan lampu, dan pada tahun 1908 Henry Ford mampu mengubah pabriknya dengan menggunakan Ban Berjalan yang dianggapnya biaya produksi jauh lebih murah, sehingga dapat menurunkan harga hingga ratusan persen (%) yang berdapak positif terhadap perusahaannya, yakni dengan cepat menguasai Pasar Mobil di eranya. Akibat dari keberhasilan Henry Ford tersebut, banyak Pabrik Mobil tutup karena banyak yang kalah bersaing.

Terbukti pada tahun 1930 Industri Mobil turun drastis, kurang lebih dari 250 perusahaan menjadi 20 perusahaan.
Industri 3.0 terjadi pada tahun 1970 sampai dengan 1999an. Diawali dengan penemuan PLC (Programmable Logic Controler), sehingga mesin industri dapat berjalan sendiri dan biaya produksi semakin murah. Ditandai dengan perubahan dalam indutri musik manual ke indutri musik digital pada masa itu, yang berdampak pada percepatan penguasaan pasar. Begitu juga dibidang industri fotografi, yang sebelumnya menggunakan alat manual seperti kamera kodak yang memerlukan kertas film, kini berubah menjadi lebih praktis dengan menggunakan ponsel genggam yang terdapat perangkat kamera didalamnya.
Dan yang terkahir adalah Revolusi Industri 4.0 yang dimulai dari tahun 2000an sampai sekarang. Ditandai dengan perubahan mesin-mesin alat kerja yang sebelumnya menggunakan operator, di ganti dengan cara-cara mesin yang full automatic, seperti pintu lobby hotel yang buka tutup sendiri, pintu masuk tol elektronik, penggunaan media secara online, super komputer, robot pinter, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neoro tecknologi yang lebih memungkinkan manusia memaksimalkan fungsi otak.


Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0


Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah siap menghadapi revolusi industri 4.0 saat ini? Keberadaan Revolusi Indutri merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh manusia dimuka bumi. Hal ini dikarenakan inovasi tanpa henti perkembangan technologi di era modernisasi sudah semakin kreatif. Meskipun revolusi industri dianggap sebagai salahsatu penyebab membengkaknya pengangguran tenaga kerja manusia yang digantikan melalui sistem kerja technologi mesin, akan tetapi sebagai manusia yang hidup di jaman now, tentu tidak boleh menutup mata, bahwa revolusi indutri juga berampak positif.

Stigma negative yang berkembang berdasarkan opini publik, bahwa revolusi industri menyebabkan membangkaknya pengangguran tenaga kerja manusia, karena ada peralihan tenaga kerja manusia ke technologi mesin yang hanya menguntungkan pemilik perusahaan, sudah waktunya dirubah dan memulai dengan memikirkan solusi dari dampak negatif revolusi industri 4.0 tersebut menjadi dampak positif. Misalnya memulai dengan pertanyaan “Bagaimana suapaya mampu beradaptasi dengan perkembangan technologi canggih di era revolusi industri 4.0.?”. Kenapa harus memulai dengan pertanyaan tersebut? Karena revolusi Industri 4.0 juga memberikan dampak positif bagi manusia di muka bumi ini, dengan memberikan kemudahan dalam beraktifitas melalui fasilitas yang ada saat ini.

Seperti yang dilakukan oleh pemerintah indonesia dengan konsep Making Indonesia 4.0, dengan harapan bangsa indonesia mampu meningkatkan daya saing industri tingkat regional ke internasional. Tentu yang menjadi sorotan terkai fenomena revolusi Industri 4.0 adalah dunia pendidikan. Dunia pendidikan yang anggap salahsatu pintu utama yang mampu mencetak generasi bangsa dengan sumberdaya manusia yang mumpuni, mestinya restrukturasi pendidikan dari jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan tinggi menjadi kewajiban.

Berdasarkan banyaknya pengangguran dari lulusan SMA dan lulusan Perguruan tinggi, baik diploma I maupun diploma II, seharusnya dapat dijadikan indikator, bahwa pola akademik dalam proses pembelajaran sudah tidak relevan dengan dunia kerja di era revolusi industri 4.0.

Oleh sebab itu, berbagai inovasi oleh perguruan tinggi dalam bidang penyelarasan paradigma Tridarma perguruan tinggi, reorientasi kurikulum, dan penerapan sistem pembelajaran harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar yang linier dengan yang diinginkan para pemodal perusahaan. Meskipun, disisi lain persoalan pendidikan ditingkat universitas atau perguruan tinggi, seperti biaya kuliah mahal, dan banyaknya alumni mahasiswa lulusan Universitas atau Perguruan Tiinggi yang menganggaur, masih menjadi persolan yang belum terpecahkan.

Dengan demikian, sejatinya para intelektual dilingkungan civitas akademika, tidak hanya dituntut menyibukkan diri dengan berkompetisi berebut poin dan koin untuk mendapatkan akreditasi dan disertasi, yang merupakan bagian dari dampak pendidikan bersifat sekuler dan materialistis melalui desain kapitalisme liberal prakmatis yang berorientasi pada profit.

Kembali focus pada perkembangan dan penerapan Revolusi Indutri 4.0. Sejatinya sangat tergantung pada mindset dan cara setiap individu dan pemerintah dalam beradaptasi. Karena Revolusi Indutri 4.0 bisa juga menjadi keuntungan, jika mampu merencanakan dan merealisasikan konsep serta mengantisipasi perkembangan revolusi industri 4.0 untuk mempermudah beradaptasi. Begitu juga sebaliknya, akan menjadi kerugian besar, jika pemerintah dan masyarakat tetap diam berpangku tangan, serta tidak ada kemauan melakukan restrukturasi kebijakan yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasar di era revolusi Industri 4.0 saat ini.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas