Menggali Inspirasi Bersama Pak D. Zawawi Imron

banner 160x600
banner 468x60

assholmedia.net – Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan gelar Seminar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, bertemakan “Menggali Inspirasi” bersama KH. D. Zawawi Imron” budayawan sekaligus penyair Madura asal Kabupaten Sumenep yang terkenal dengan puisi “Clurit Emas”nya.

Kegiatan berlangsung dari pukul 20:00-22:06 ini diikuti oleh santri aktif pondok pesantren Syaichona Moh. Cholil dan mahasiswa STAIS Bangkalan yang diawali dengan pembacaan sirotul Fatihah, di lanjut pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari LP3S, Sambutan dari Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil RKH. Moh. Nasih Aschal, Acara Inti Seminar dan di tutup dengan Pembacaan Do’a.

Kegiatan yang diadakan oleh LP3S (Lembaga Penerbitan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil) dan Demangan News ini berlangsung dengan sangat meriah, pasalnya para peserta yang hadir sampai membludak keluar aula karena tidak muat, antusiasme para peserta sangat tinggi untuk bisa mengikuti kegiatan seminar.

Di tengah-tengah saat menyampaikan materi, beliau bertutur sebagaimana dikutip dari bahasanya Imam Syafi’i bahwa, “Santri menurut Imam Syafi’i kalau malas belajar itu berbahaya”, beliau melanjutkan “Siapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah empat kali (sebagai shalat jenazah) atas kematiannya. Tegas beliau dengan ungkapan penuh makna.

Sebagai salah satu ciri khas beliau saat menghadiri setiap acara adalah selalu membacakan sebuah Puisi.
Dihadapan para peserta, KH. D. Zawawi Imron membacakan sebuah Puisi berjudul “Ibu” dan sekaligus sebagai ungkapan inspirasi penutup dari beliau.

“Kalau merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mata air, air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau.
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.”
(Karya D. Zawawi Imron – Duta Madura Untuk Sastra Indonesia Modern)

Reporter: As’ari yadi
Reporter: Achmad Hafsin

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas