Pembacaan 1 Miliyar Sholawat Nariyah Memupuk Santri Cinta NU, NEGERI dan KIAI

banner 160x600
banner 468x60

Santri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil bangkalan gelar pembacaan Sholawan Nariyah 1 meliyar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang dipimpin oleh RKH. Mohammad Nasih Aschal bertempat dihalaman Madrasah pada ahad 21 oktober jam 19.30 WIB.

Kegiatan ini diadakan untuk mendoakan para pejuang, pahlawan serta para syuhada’ yang telah merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari penjajah. Kegiatan ini sangatlah penting untuk mengenang jaza para pahlawan bangsa yang telah berjuang mati-matian demi kemerdekaan Indonesia.

Sebelum pembacaan sholawat dimulai ra nasih menyampaikan sambutan sekaligus sebagai refleksi perjuangan KH. Hasyim Asy’ari, diantara sambutan yang beliau sampaikan :

“Tujuan diadakan pembacaan sholwat nariyah adalah untuk kepentingan yang besar manfaatnya, niatkan baca sholwat narih ini untuk keselamatan bangsa dan negara, keselamatan para masyayikh, kiai, santri dan para keluarga santri serta untuk mengenag dan mengingat jaza guru, masyayikh, kiai para penjuang, para pahlawan, para syuhada’ yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan umat, bangsa dan negara, kita tahu bahwa dalam peperangan yag terjadi di surabaya banyak pahlawan negara yang gugur diantaranya ada kiai dan santri. Kemerdekaan ini tidaklah mudah untuk direbut dari penjajah, para pahlawan rela meninggalkan gemerlapnya mutiara yang suci dan mulya demi untuk sesuatu yang sangat indah yakni kemerdekaan Republik Indonesia, kemerdekaan dipersembahkan untuk para penerus syuhada’, generasi bangsa yqng handal yaitu para santri. Besok adalah tanggal 22 oktober yang dikenal dengan Hari Santri Nasional, diberi nama ini karena dihari itu muncul sebuah fatwa, amanah yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal dengan Resolusi Jihad, yang isinya, beliau mengajak kepada rakyat agar berada dibarisan terdepan dalam merebut dan membela RI yang sedang diserang oleh pebjajah belanda, peran penting KH. Hasyim dalam membela RI, beliau menjadi pemimpin ormas islam yg tergabung dalam majelis yang disebut dengan majelis A’la Islam Indonesia dan beliau adalah satu-satunya orang yang mampu menggerakkan seluruh rakyat Indonesia dibawah pimpinan seorang pemuda yang bernama bung tomo, belanda berperang dengan rakyat sipil Indonesia (petani, kiai,santri dan rakyat jelata) pada saat itu rakyat belum kenal dengan senjata, rakyat hanya dibekali dengan sejata bambu runcing. Betapa dahsyatnya fatwa KH. Hasyim sehingga bung tomo semangatnya berkobar-kobar dalam memimpin perang, seakan dirinya berada di bawah panji rasulullah saw. dan beliau berkeyakinan bahwa pertolongan allah akan datang, allah akan menurunkan bala tentara malaikat dalam membantu kemerdekaan Indonesia.

KH. Hasyim adalah pendiri NU dan atas restu guru beliau yaitu Syaichona KH. Moh. Cholil bin KH. Abd. Lathif oleh karena itu Santri harus cinta NU,cinta Negeri dan harus cinta Kiai. Tidak boleh satupun yang dilupakan dari sejarah NU karena kalau ada yang sampai terlupakan maka disitu ada celah yang akan dimasukkan kepada kita sebagai warga nahdiyyin, pemahaman yang tidak membenarkan NU dan apabila hal itu terjadi maka akan terjadilah hal yang disabdakan ole Nabi Muhammad saw. fantadirissaah (tunggulah saat kehancurannya). Diakhir sambutannya, RKH. Mohammad Nasih Aschal berpesan kepada santri “berusahalah menyukai apa yang disukai oleh para masyayikh dan berusahalah tidak menyukai apa yang tidak disukai oleh masyayikh, ikutilah arahan dan petunjuk masyikh agar menjadi santri yang selamat, santri yang senantiasa membela keutuhan NKRI dan panji Nahdlatul Ulama”.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan sholawat nariyah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara.

Redaktur: Achmad Hafsin

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas