Kontroversi Aturan Speaker Masjid, Langgar dan Mushalla

banner 160x600
banner 468x60

Kontroversi Aturan Speaker Masjid, Langgar dan Mushalla

Oleh: Ahmad Nurun, S.H.*

Setelah dikeluarkannya surat edaran Kementrian Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: B.3940/DJ.III/HK.00.7/08/2018 tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Mushalla, Muncullah berbagai persepsi negatif penuh kontroversi dari berbagai ormas Islam, politisi, ulama’ dan masyarakat yang seakan akan Islam dipersekusi, diintimidasi, didiskriminasi oleh rezim pemerintahan saat ini.

Secara tegas MUI kota Serang menolak aturan pengeras suara masjid, menurut ketum MUI kota Serang KH Mahmudi “suara adzan adalah panggilan suci Allah SWT yang dapat mengusir syetan didalam hati manusia, berani dikumpulkan umat Islam se-Indonesia berapa persen yang tidak senang suara adzan hanya yang hatinya kerasukan syetan”. Begitupula Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan bahwa “Instruksi Dirjen tersebut juga bersifat diskriminatif karena hanya mengatur rumah ibadah tertentu, sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan kecemburuan di tengah masyarakat” melalui siaran pers, Senin (27/8). Abdul Mu’thi, sekretaris umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengatakan bahwa pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid harus dibarengi dengan edukasi dari para Ulama dan Dewan Masjid Indonesia kepada takmir atau kelompok pengurus masjid tentang esensi makna syiar agama. “selama ini syiar dipahami sebagai sesuatu yang ramai, makanya marak penggunaan pengeras suara oleh masjid. Padahal kata beliau syiar agama adalah melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya”.

Dalam kondisi masyarakat yang homogen tentu pengeras suara tersebut tidak menjadi problem, akan tetapi konflik horizontal muncul ketika masyarakat disekitar masjid heterogen atau berasal dari latar belakang keyakinan yang berbeda, terutama dikota kota besar dan masyarakat kosmopolit. Saking tidak tahannya dengan suara yang amat keras dan lama terkadang seseorang memprotesnya secara keras sehingga di tanggapi secara frontal dan diproses secara hukum oleh pihak masjid dengan dalih penistaan Agama, hal ini seperti kasusnya Meiliana asal Medan Sumatra utara yang divonis 18 bulan atau 1,5 tahun penjara oleh pengadilan negeri Medan pada tanggal 22 agustus 2018 atas dasar penistaan agama pasal 156a dalam UU Nomor 1/PNPS/1565.

Indonesia adalah Negara hukum, demikian bunyi Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945. Indonesia memiliki banyak keragaman agama, budaya, tradisi, ras dan keyakinan. berangkat dari itu maka perlunya payung hukum untuk mengatur dan menertibkannya, dikeluarkannya surat edaran kementrian Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor: B.3940/DJ.III/HK.00.7/08/2018 itu bukan tanpa landasan, pertimbangan dan tujuan melainkan untuk mengatur dan menertibkan hukum yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, dari itu tertarik penulis untuk menganalisa 4 poin penting dalam surat edaran tersebut:

Pertama: Syarat syarat pengunaan pengeras suara, disitu dijelaskan bahwa perawatan pengeras suara oleh seorang yang terampil. muadzin, imam, qori’ hendaknya memiliki suara fasih, merdu, enak, tidak cemplang dan tidak terlalu kecil. Ini juga salah satu alasan Nabi Muhammad SAW memilih Bilal menjadi seorang muadzin karna dia memiliki suara yang lantang, bagus dan merdu.

حَكَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ أَذَانَ ( الْمَلَكِ ) النَّازِلِ مِنَ السَّمَاءِ ، وَوَافَقَهُ عُمَرُ وَجَمَاعَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَقُمْ مَعَ بِلالٍ فَأَلْقِ عَلَيْهِ مَا رَأَيْتَ ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ (فإنه أندى) قال الجزاري في النهاية أي أرفع و أعلى صوتا و قيل: أحسن و أعذب صوتا وقيل: أبعد و في القاموس أندى : كثرة عطاياه أو حسن صوته

Kedua: Tidak boleh meninggikan suara doa, dzikir dan sholat karna itu adalah termasuk ibadah yang sifatnya individu kecuali adzan meskipun dalam kondisi apapun, ini berdasarkan perintah Al quran dan hadits dibawah ini

واذكر ربك في نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والآصال ولا تكن من الغافلين .
Artinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A`râf [7]: 205).

وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ” إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ ، فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ وَبَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ ، فَإِنَّهُ لا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلا إِنْسٌ إِلا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ”
Artinya: Nabi Muhammad SAW telah berkata kepada Said al khudri “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (penggembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat”.

Berdasarkan hal ini, maka penggunakan pengeras suara saat adzan sama sekali tidak ada batasan dari pemerintah sementara yang dibatasi adalah penggunaan pengeras suara untuk shalat dan dzikir yang tidak boleh menggunakan pengeras suara ke luar masjid namun harus menggunakan pengeras suara ke dalam masjid karena sebenarnya kebutuhan pengeras suara disini adalah untuk para jamaah masjid yang sedang melaksanakn ibadah beda halnya dengan suara adzan yang diperuntukkan kepada semua orang islam baik yang berada di dalam masjid maupun di luar masjid untuk memberitahhukan bahwa waktu shalat sudah masuk.

Ketiga: Waktu pemakaian suara speaker diatur dan dibatasi, Disini banyak reaksi masyarakat yang kontra akan aturan pemerintah sehingga mereka beranggapan Islam itu dipersekusi, Islam diintimidasi dan Islam didiskriminasi, ini disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya masyarakat awam memandang bahwa syiar dipahami sebagai sesuatu yang ramai, makanya marak penggunaan pengeras suara oleh masjid, langgar dan mushalla. Padahal syiar agama adalah melaksanakan ajaran agama dengan sebaik-baiknya yaitu mengajak dengan cara yang ramah, lemah lembut dan santun.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS an-Nahl [16]: 125).

Kesemuanya itu mendorong umat Islam mencari cara-cara yang bijaksana diantara melaksanakan syiar Islam dan menjaga keutuhan hidup bertetangga yang tidak menimbulkan suatu gangguan, bahkan menimbulkan keharmonisan dan rasa inklusif, empatik, toleran secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Keempat: Suara speaker masjid, langgar, mushalla di desa/kampung pemakaiannya dapat lebih longgar dengan memperhatikan tanggapan dan reaksi dari masyarakat, kecuali hal hal yang jelas dilarang oleh syara’. Disini pemerintah memberikan toleransi kepada masyarakat desa guna mengatur dan menyerukan syiar islam sesuai dengan adat, tradisi lokal wisdom yang berlaku, tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Berdasarkan paparan di atas seharusnya kita lebih bijak dalam berkata dan bertingkah, jangan mudah terprovokasi oleh hal-hal yang baru sebelum kita melakukan tabayyun sebagaimana diperintahlan oleh Allah swt.

يَأّيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوا إِنْ جَاءَ كُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيْبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمِ نَادِمِيْن
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman ! jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya. Agar kamu tidak mencelakakan satu kaum karena kebodohan, yang akkhirnya kamu menyesali perbuatan itu” (QS. Al-Hujurat: 6)

Di era digital ini seringkali kita disuguhi infromasi-informasi yang belum jelas namun kita anggap sebagai suatu kebenaran mutlak sehingga kita bereaksi sesuai dengan narasi yang disampaikan berita tersebut, padahal berita yang benar tapi dibawakan dengan narasi yang salah, maka akan menimbulkan persepsi yang berbeda sebaliknya sebuah berita hoax yang dibawakan dengan narasi yang tegas seringkali kita terima sebagai sebuah kebenaran, oleh karenanya sebagai muslim kita harus memahami isi berita dan fakta di balik berita.

* The English development mentor di pesantren Mahasiswa Universal Al Islami Bandung sekaligus Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas