Rahasia Dibalik Bulan Ramadhan

Tidak ada komentar 429 views
banner 160x600
banner 468x60

Puasa Ramadhan bukanlah suatu hal yang asing bagi setiap kaum muslimin, karena puasa merupakan rukun islam yang ke 4, secara lahiriah puasa merupakan ibadah badaniah, akan tetapi secara batiniah yang nilainya terletak pada pelakunya dan tentunya kadar nilainya pun hanya Allah yang mengetahuinya.

Dalam hal ini, Allah mewajibkan orang mukmin untuk berpuasa pada bulan ramadhan sebagaimana yang telah Allah wajibkan pada orang-orang yang sebelum Nabi Muhammad SAW. Sesuai dengan firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ( البقرة, 183 )
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Allah dalam mewajibkan puasa memakai ungkapan يا أيها الذين آمنوا , tidak memakai يا أيها الناس, tentu saja di dalamnya mengandung misteri yang sangat mendalam yang tidak bisa diungkapkan dengan hanya berfikir sejenak. Sebab, orang yang Islam kalau tidak beriman pasti tidak akan melaksanakan puasa.

Disisi lain, umat Islam selayaknya memahami tentang makna dan rahasia yang tersimpan di dalam bulan Ramadhan, sehingga dengannya bisa menjadi penyemengat sekaligus pendorong kepada setiap orang yang menjalankannya sebagai peningkatan ibadah kepada Allah SWT. Berikut adalah beberapa rahasia atau sebuah keistimewaan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits. Semoga dengan mengetahui hal ini, kita semua senantiasa selalu semangat dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan penuh berkah.

1. Ramadhan; bulan diturunkannya al-Qur’an
Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Artinya: “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (QS. al-Baqarah: 185)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat yang ini mengatakan,“(Dalam ayat ini) Allah SWT memuji bulan puasa (yaitu bulan Ramadhan) dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya al-Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi”. (Tafsir al-Qur’an al-Adhim, 2/179)

2. Ramadhan; bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya: “Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Al-Qadhi Iyadh mengatakan,“Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut”. Lanjut Al-Qodhi Iyadh,“Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu”. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/188)

3. Ramadhan; didalamnya terdapat malam lailatul qadar
Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya al-Qur’anul Karim.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3(
Artinya:“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS. al-Qadr: 1-3)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ.
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.(QS. ad-Dukhan: 3)
Yang dimaksud malam yang diberkahi disini adalah malam lailatul qadar. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir At-Thobari rahimahullah (Tafsir At-Thobari, 21/6). Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu Abbas (Zaadul Masiir, 7/336-337).

4. Bulan ramadhan adalah salah satu waktu dikabulkannya do’a
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan”.(HR. al-Bazaar, dari Jabir bin Abdillah)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Artinya: “Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. (HR. At Tirmidzi)
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,“Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu. An-Nawawi rahimahullah mengatakan pula,“Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya”.

M. Rofii

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik