Isra’ Mi’raj dan Sains Modern

Tidak ada komentar 644 views
banner 160x600
banner 468x60

Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw terjadi pada masa kesedihan Nabi karena meninggalnya dua pelindung beliau, yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib, sehingga perjalanan ini merupakan bentuk pelipur lara dari Allah swt pada tahun kesedihan Nabi.

Disamping itu, dari sudut keagamaan perjalanan (isra’) ini pun bermakna lambang risalah baru yang diberikan kepada umat manusia.
Allah swt berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui” (QS. al-Isra:1).

Ayat-ayat (tanda-tanda) yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj tidak lain ialah riwayat para nabi sebelumnya dan perjuangan mereka dalam rangka memberi penyegaran kembali kepada Nabi tentang tugas sucinya sebagai akhir dari para Nabi dan Rasul. Maka, di Yarusalem itulah Nabi mempunyai pengalaman shalat dengan semua Nabi yang pernah ada, dan Beliau yang menjadi imam. Abu Dzar pernah bertanya kepada Rasulullah, Berapakah jumlah nabi seluruhnya wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, 124.000 Nabi, 315 Nabi diantaranya adalah Rasul. Suatu jumlah yang sangat besar, ini tentu saja sesuai dengan al-Qur’an yang memberikan keterangan bahwa Allah telah mengutus rasul untuk setiap umat.

Seusai menunaikan tugas Ilahiah, Isra’ Mi’raj (27 Rajab) lebih dari 14 abad silam, Rasulullah saw bertutur tentang pengalamannya. Hal itu disampaikan kepada keluarga dekat, sahabat dan masyarakat (Quraisy). Namun, banyak yang tidak percaya, bahkan mengolok-olok karena hal itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Beberapa orang yang tadinya mengimani Muhammad saw menjadi ingkar kembali. Hanya Abu Bakar bin Abu Quhafah yang selalu mengatakan, Shadaqta Ya Rasulullah, Shadaqta Ya Rasulullah! untuk itu kemudian Nabi Muhammad saw memberikan gelar kepadanya Ash-Shiddiq (yang selalu membenarkan).

Buat ukuran tradisi pikir masyarakat Arab kala itu, peristiwa yang dialamai Nabi saw memang untuk sementara tidak mudah diterima logika. Analog dengan cerita angan-angan seorang cucu kepada kakeknya yang hidup seabad lewat misalnya. Sang cucu berkata, Kek, nanti bakal ada kendaran dari Surabaya ke Jakarta ini cukup ditempuh dengan waktu satu jam saja. Mungkin sang Kakek berkata dalam hati bahwa sang cucu sudah edan. Mana mungkin Surabaya-Jakarta bisa ditempuh sesingkat itu.”
Tapi, perubahan waktu dan pergeseran masa telah mengubah pola pikir manusia ketika Wilbur & Orville Wright menemukan pesawat terbang (1903). Akhirnya Surabaya-Jakarta tidak lagi harus dilalui berhari-hari dengan kereta andong ataupun lokomotif uap. Bahkan ketika mesin jet ditemukan oleh Frank Whittle (1903) jarak tempuh wilayah kian jadi lebih dekat, dan Concorde Supersonic adalah salah satu bukti produk piawai tangan manusia paling modern, karena kendaraan itu kecepatannya melebihi kecepatan suara. Mimpi cucu yang diedankan di masa kakek pun jadi kenyataan.

Itu adalah ilustrasi bahwa tradisi pikir manusia mempunyai batas waktu dan ruang. Sedang kejadian supranormal yang dialami Rasulullah saw memiliki dimensi lain dari sekedar dapat dipahami secara logika. Bagi orang seperti Abu Bakar yang dikaruniai hikmah oleh Nabi saw, tanpa ragu dapat mengerti apa yang baru saja dialami oleh Nabi saw dengan rasa imannya yang tinggi. Ia telah memahami peristiwa yang dialami oleh si jujur al-Amin itu secara intuitif, bukan dengan rasio yang serba terbatas.

Nabi saw telah wafat, namun peninggalannya berupa al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan pusaka (untuk dipahami hikmah-hikmahnya yang terkandung) bagi manusia sepanjang masa. Secara transparan pun kini Mi’raj Nabi bersama Malaikat Jibril as (yang kendaraannya sering diilustrasikan umat sebagai hewan bersayap dengan nama buraq) sudah terkuak, dan dibuktikan secara eksakta.

Ir. H. Abdurrahman Mustazir, alumni ITB Bandung misalnya dapat menghitung kecepatan Mi’raj Nabi bersama Jibril yang punya kecepatan sehari sama dengan 50 ribu tahun manusia bumi. Itu artinya sama dengan 1.750 kali kecepatan cahaya. Sesampainya di Sidhratul Muntaha, Jibril tidak sanggup mendampingi Nabi. Sebab ada faktor tidak terhingga yang hanya dapat ditempuh oleh Nabi saw sendiri dengan suatu wasilah (se-izin Allah swt) Muhammad saw dapat menghadap-Nya.

Pada masa Nabi, buraq (kendaraan yang ditumpangi Rasullah saw) mungkin secara harfiah hanya dipahami sebagai kilat untuk mendeskripsikan kecepatan. Padahal sesungguhnya bila dicermati melalui sains dan teknologi modern, buraq itu bisa dianalogikan sebuah tabung yang dapat menampung jasad materi. Nah, dengan tabung itu (seperti pernah dikhayalkan dalam film Startek) jasad yang masuk didalamnya tidak hancur berkeping-keping karena kecepatan yang luar biasa.

Karena itu hadits tentang pembelahan dada Nabi saw oleh Malaikat Jibril as menjelang berangkat, barangkali perlu di interpretasikan sebagai adaptasi jasad materi dengan tabung yang akan menerbangkannya. Materi yang terdiri dari molekul bisa dipecah menjadi atom, dan atom bisa dipecah menjadi proton, sedangkan proton bisa dipecah menjadi foton, adapun yang terakhir ini tidak bisa dipecah lagi sehingga tentunya dapat adaptasi dengan tabung atau kendaraan yang membawa Nabi saw melakukan Isra’ & Mi’raj yang membawa hikmah luar biasa sepanjang masa sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw yang paling agung ini.

Oleh: M. ROFI’I

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas