Menaker RI Hanif Dhakiri: Santri Harus Terampil dan Inovatif

banner 160x600
banner 468x60

Penyerahan Cenderamata oleh Ketua Umum Asschol RKH. Nasih Aschal kepada Menaker RI Hanif Dhakiri

Asscholmedia.net – Perhatian pemerintah terhadap keberadaan pesantren saat ini sudah terprogramkan, maka dari itu seorang santri yang menempa ilmu di dalamnya harus belajar dengan sungguh-sungguh agar setelah keluar dari pesantren bisa menjadi tolak ukur keberadaan pesantrennya. Pada acara kali ini merupakan beberapa rangkaian acara di Mubes yang berupa Talkshow dengan mengangkat tema “Eksistensi Alumni di Era Globalisasi” yang diisi langsung oleh Menaker RI Muhammad Hanif Dhakiri, S.Sg., M.Si.

Dalam Talkshow tersebut, beliau memaparkan bahwa seorang Santri harus mempunyai sebuah keterampilan sehingga ketika keluar dari pondok pesantren seorang santri bisa memiliki profesi tetap yang bisa dikerjakan oleh santri tersebut.

“Pada zaman dulu itu seorang santri selalu disuruh kerja dan mengabdi oleh gurunya kepada pesantren dan hal ini ternyata mampu menjadikan santri memiliki karakter yang kuat ketika boyong atau berhenti dari pondok pesantren. Sekarang metode semacam ini sudah sangat jarang sekali, santri sekarang ini memang selalu dituntut untuk belajar secara kontinu dan ini adalah metode yang dikembangkan oleh pesantren sehingga santri zaman sekarang ketika berhenti dari pondok pesantren masih harus mencari karakter yang belum bisa dikembangkan di pesantren. Akan tetapi santri tidak boleh berkecil hati karena apa yang diajarkan dipesantren bukanlah tentang ilmu agama saja justru ilmu-ilmu yang lainpun bisa dipelajari di dalam pesantren dan ini bisa menciptkan santri yang terampil dan inovatif”, tegas beliau.

“Terampil tidak Jujur dan tidak jujur yang terampil maka yang dipilih oleh orang lain adalah jujur yang tidak terampilan, karena keterampilan bisa di asah, bisa dipelajari. Orang yang mampu bertahan hidup bukanlah orang yang kuat ataupun orang yang pintar akan tetapi orang yang paling bisa bertahan hidup adalah orang yang responsif kepada perubahan dengan inovasi-inovasi dan pesantren adalah tempat yang paling tepat untuk membentuk karakter yang inovatif”, imbuh Menteri RI tersebut.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa metode boleh saja berubah, akan tetapi substansinya harus tetap sama. Kita tetap berkomitmen untuk menjaga ilmu-ilmu kiai kita, guru-guru kita. Seorang santri harus bisa bekerja lebih keras dan inovatif, contohnya seperti ojek online. Ojek online merupakan buah dari inovasi.

Beliau juga menjelaskan, Jika kita melakukan sesuatu dengan cara yang sama dan biasa akan tetapi kita menginginkan hasil yang luar biasa itu adalah orang gila, kerja yang lebih keras akan menghasilkan hasil yang lebih baik, sebaimana seorang santri yang ingin melampaui hafalan temannya maka santri tersebut harus memiliki waktu menghafal lebih lama dari pada temannya tersebut.

“Santri sebenarnya sudah memiliki modal untuk mengikuti perkembangan zaman yaitu sebuah Akhlak yang jujur dan karakter yang di didik oleh Pondok Pesantren. Semangat keberagamaan kita sekarang sedang meningkat, meskipun ada juga yang sampai mengkafir-kafirkan yang lain. Padahal hal semacam itu bisa sangat membahayakan, maka berislamlah sebagaimana NU, sebagaimana Ahlu Sunnah Wal Jamaah”. Terangnya.

Diakhir Talkshow nya Bapak Hanif juga menegaskan, “Sosial media ini sngat penting karena ini akan terus meningkat, mereka bisa menghabiskan waktu 4 jam bahkan lebih, andaikan yang mereka lihat adalah hal yang negatif maka betapa parahnya negeri kita. Maka media-media perlu kita filter contahnya “asscholmedia TV” ini harus di isi oleh konten-konten positif.

Reporter: Agus Mukaffi Makki
Editor: Rofi el-ponty

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik