KH. Kholid Mahsus: Rasulullah Tidak Anti Tradisi

banner 160x600
banner 468x60


Terkait pembahasan masalah adat yang notabenenya kita tinggal di Nusantara, khususnya kita yang berada di Jawa-Madura (Bangkalan) memang bermacam-macam dan dimungkinkan memang dari para leluhur kita, bahkan seiring dengan perkembangan zaman juga bisa dimungkinkan ada sebelum Islam datang.

Salah satu contoh dari adat (kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan) kita adalah pelet kandung atau pelet betteng. Sejauh yang saya ketahui, adat ini memang dari dulu sudah ada dan kemungkinkan besar datang sebelum Islam, dan adat ini memang harus perlu dilestarikan bahkan jika perlu juga harus dikerjakan. Mengapa demikian? Karena memiliki tujuan yang posistif. Saya memandang tujuan tersebut tiada lain hanya untuk bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan yang berupa kandungan serta permintaan do’a kepada Allah agar kandungan tersebut diberikan keselamatan dan lahir dalam keadaan sempurna, tidak cacat dan sebagainya. Jadi intinya dua; Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan dan permintaan do’a kepada Allah agar diberikan keselamatan.

Dari sudut pandang Islam secara hukum, adat ini disebut Taqalid atau A’raf atau A’raf Wat Taqalid atau Adat Wat Taqalid.
Taqalidul bilad, Taqalidul arab; ada adat di arab mulai dulu, ada adat di Madura dan sebagainya yang memang dari dulu (zaman jahiliyah) sudah ada. Tidak hanya disini ada adat, di Arab saja dulu kalau orang Thawaf itu telanjang yang disebut Hamas. Seperti halnya juga Walimah atau selamatan; ada istilah Waqirah, Wadi’a, Kharishah (selamatannya orang yang melahirkan), Walimatul Khuz. Ini semua sudah ada sejak zaman jahiliyah (sebelum Nabi Muhammad lahir).

Adanya adat ini sebenarnya tidak hanya ada di Madura saja, bahkan di arab sendiripun juga ada. Di tempat diturunkan nya wahyu, di zaman Rasulullah juga banyak berbagai adat yang dilakukan oleh masyarakat hingga sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Seperti halnya Aqiqah dan Khitan (sunatan) yang selamatannya disebut Adzirah, istilah-istilah seperti ini memang sudah ada mulai dari dulu, artinya adat yang dijadikan sebagai “wadah” ini memang sudah diakui adanya (dilestarikan) hingga datangnya agama Islam.

Nah, intinya apa dari semua itu? Di waktu zamannya Nabi Muhammad seperti ini keadaannya maka keluarlah sebuah hukum Islam yang berbunyi موقف الإسلام عن العادة, Bagaimana Islam itu memandang sebuah adat? Apa karena adat itu lantaran Yahudi kemudian di buang? Apa karena adat itu lantaran Islam belum sampai ke Nusantara hingga kemudian dianggap sesat? Dilihat dulu pada situasi diturunkannya wahyu di Mekkah pada saat itu.

Diceritakan dalam sebuah Hadits shahih, suatu ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, beliau mendapati mereka (orang-orang jahiliyah) bersenang–senang dengan berbagai permainan pada dua hari yang dirayakan disetiap tahunnya. Nabi Muhammad bertanya: “Apa dua hari ini?”, lalu mereka menjawab, “Kami biasa bermain-main pada hari ini di masa jahiliyah”, maka Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر
Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari itu dengan yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.”

Kita berbicara keberadaan Hadits tersebut melalui Usul Fiqh, bagaimana Islam memandang tentang hal itu, jadi منطوق الحديث (lafal secara dhahir) dari Hadits tersebut yaitu dirubahnya dua hari menjadi hari yang lebih baik. Jelas bahwa mafhum muwafaqah nya adalah Nabi Muhammad tidak menutup dua hari tersebut melainkan hanya mengganti dengan yang lebih baik, artinya Nabi Muhammad tetap mengakui adat yang telah ada sejak zaman jahiliyah tapi isi kegiatannya di ganti dengan hal yang lebih baik walaupun harinya berbeda.

Memang pada Hadits tersebut makna dari “Dua Hari” itu disebut hari Nairuz (hari raya Majusi Persia milik Iran yang dilaksanakan pada 21 Maret setiap tahun) dan Mihrajan (hari raya orang jahiliyah pada 26 Oktober).

Kenapa saya melebarkan pembahsan? Karena banyak orang-orang saat ini mengatakan bahwa tahlil 7 hari adalah kelakuan orang Yahudi, padahal Imam as-Suyuthi di Hawi fil Fatawi menyebutkan bahwa atsar hari ini merupakan atsar dari para Sahabat, artinya kita berkata dengan berlandaskan hukum. Toh sekalipun kelakuan tersebut miliknya Yahudi tapi mengapa oleh Nabi Muhammad dibiarkan? Nah, intinya adalah sekalipun adat itu datangnya dari orang-orang Yahudi maka tidak jadi apa-apa diteruskan karena Islam punya sikap tentang hal itu (adat ditetapkan, isinya diganti dengan yang lebih baik).

Itulah sekelumit tentang pelet kandung yang memang telah ada sejak zaman dulu, diceritakan juga pada zaman Jaya Baya dan sebagainya (yang pada saat itu orang-orang masih belum mengenal Allah) ada sepasang suami istri yang tidak punya anak, anak lahir tapi selalu meninggal dunia akhirnya disuruh untuk selamatan.

Bagaimana menyikapi kendati isi dari ritual pelet kandung yang berbeda-beda, seperti ada yang menginjak telur ayam, memgang ayam ketika yang hamil disiram dengan air kembang, dan sebagainya. Apakah ada pengaruh terhadap cabang bayi?

Hal seperti ini, ketika Islam datang kita harus mengingatkan kepada masyarakat bahwa adat istiadat ini mempunyai tujuan baik yaitu untuk bersyukur kepada Allah atas anak yang dikandungnya meskipun cara bersyukurnya masih menggunakan adat istiadat orang jahiliyah sepanjang tidak keluar dari ajaran islam (menggunakan cara kesyirikan).

Kembali lagi pada hukum Islam bahwa bersyukur itu صرف النعم لما خلق لأجله (menggunakan nikmat untuk hal ibadah), entah itu kita mengucapkan Alhamdulillah atau tidak tapi nikmat yang kita gunakan untuk jalan yang tepat, ini sudah termasuk syukur. Akan tetapi perlu juga diketahui bahwa nikmat yang harus kita syukuri itu harus berupa barang yang halal dan caranya bersyukur itu dengan cara ibadah.

Dalam hal ini juga harus ditekankan kepada masyarakat, jika yang dijadikan bersyukur itu hasil perolehan dari mencuri atau merampok atau sukses karena berjudi (misalnya), ini tidak akan diterima oleh Allah SWT atau sebaliknya, hartanya halal akan tetapi cara bersyukurnya dengan hal tidak baik. Semisal, mengundang orang tapi untuk bermain judi. Hal ini penting untuk diketahui dalam tata caranya orang bersyukur.

Bagaimana pandangan Kiai tentang keharaman ritual seperti yang kiai katakan diatas?

Perlu diketahui bahwa keharamannya itu tidak merusak pada asal. Telah banyak orang-orang saat ini mengatakan karena menginjak telur dan semacamnya sehingga pelet betteng/pelet kandung itu haram dan tidak boleh dilestarikan. Nah ini pendapat yang salah. Lalu bagaimana solusinya? Buang telurnya, ambil wadahnya. Artinya, pelet betteng/pelet kandung tetap dilestarikan dan ritual menginjak telur dan semacamnya diganti dengan kegiatan yang lebih baik dan lebih positif.

Apa ada sikap dari para kiai untuk merubah itu atau memang ada kiat-kiat dari para kiai (Bangkalan khusunya) untuk merubah tradisi yang menurut kami keluar dari Islam.

Nabi Muhammad tidak membuang adat secara keseluruhan, bahkan banyak adat di arab yang mulai zaman jahiliyah hingga zaman Islam yang oleh Nabi hanya dibuang isi ritualnya saja diganti dengan yang lebih baik. Nah, kita ikut kepada Rasulullah.
Karena Nabi Muhammad menyukai kebiasaan-kebiasaan arab selama hal itu tidak bertentangan dengan Islam. Dihubungkan dengan keadaan dulu di masa Syaichona Cholil hingga sekarang, sudah cukup dakwahnya para ulama, kiai untuk mengubah adat menjadi lebih baik.

Kita harus sadar dan kita harus mengakui bahwa kita warga nahdiyyin yang sangat kental dengan para ulama, tapi kita juga harus tahu pada keteledorannya warga kita seperti ketika anak sudah bisa duduk tegak maka orang tuanya akan membuat selametan dengan membuat makanan ketan kemudian anaknya akan ditaruh diatas ketan tadi (toron tanah epatojuk ke becit), hal semacam itu kan termasuk penghinaan terhadap makanan ketan yang seharusnya tidak boleh diduduki. Kita tidak membuang adat tapi Islam punya sikap tentang itu. Adatnya ditetapkan tapi isinya diganti dengan hal yang baik. Termasuk juga pelet bettheng ini yang di dalamnya ada ritual menendang ayam (Nempak Ajem), menginjak telur ayam, kadang ada yang menginjak kelapa. Hal semacam ini kan merupakan idza’, melakukan perkara yang diharamkan lantaran memperlakukan sebuah nikmat Allah tidak sesuai pada tempatnya.
Sebenarnya kenegatifan ini merupakan peran dakwah para Ulama, Kiai, dan Asatidz kepada masyarakat untuk memahamkan mereka.

Syaichona Cholil dalam dakwahnya juga sudah merubahnya yang identik dengan “Nyur Gedding”. Falsafahnya adalah kekuatan bathin dan hati. Hal ini merupakan tafa’ul yang dalam Islam tidak apa-apa, Nabi Muhammad juga menyukai pada hal-hal yang baik. Seperti contoh; lewat pada jalan yang sebelah kanan, sesuatu yang dikaitkan dengan hal yang baik.

Nyur Gedding ini digunakan dari dulu karena falsafahnya adalah kekuatan bathin dan hati, berharap kepada Allah agar anak yang dilahirkan tidak hanya ganteng secara fisik dan pikiran tapi juga kuat hatinya.

Pada zaman dulu “Nyur Gedding” ini ditulisi dengan hal-hal yang tidak baik, akhirnya diambil oleh Syaichona Cholil diganti dengan tulisan azimat.
Cerita yang datangnya dari KH. Taib Hadiri juga bahwa dulu Rasol ini di isi dengan buah-buahan kemudian di buang ke laut atau ke sungai yang dikenal dengan istilah Rokat. Akhirnya, dengan datangnya Syaichona Cholil hal semacam itu di rubah dengan memberikan Rasol tersebut kepada orang-orang agar dimakan. Seperti ini yang semestinya kita lakukan.

Kita bersama jangan terlalu percaya pada adat tanpa mengetahui apa isinya adat tersebut, dan hal yang lebih penting yaitu peran kita merubah adat dengan bil hikmah dan bil mauidhatil hasanah, karena adat ini lebih sulit daripada hukum untuk merubahnya.

Apa ada sesuatu yang di khususkan, kenapa harus 7 bulan perayaannya, melihat Hadits arba’in yang diriwayatkan oleh Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud?

Sebenarnya pelaksanaan pelet kandung ini bisa kapan saja dilaksanakan, tujuannya kan untuk bersyukur kepada Allah, namun biar tidak terjadi fitnah maka dipilihlah waktu 7 bulan oleh sesepuh kita. Secara syariat memang tidak ada aturan akan tetapi jangan dirubah. Mengapa? Karena ada hikmah dibalik 7 bulan itu.

Pada saat kandungan usia 7 bulan perkembangan bayi telah sempurna, pada saat itu telinga sudah bisa mendengar, mata bisa melihat, tangan bisa bergerak, kulitnyapun sempurna dan sebagainya. Jadi, sudah pas para sesepuh kita terdahulu yang menempatkan waktu pada saat kandungan berusia 7 bulan karena pada saat itu nikmat yang paling besar telah diberikan oleh Allah Swt.

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik