TINGKEPAN ATAU PELET KANDUNG ANTARA KEJAWEN DAN ISLAM

banner 160x600
banner 468x60

Oleh: Zainal Arifin
Pengajar Madrasah Diniyah Salafiyah al-Ma’arif

Ngopati merupakan bahasa jawa yang artinya syukuran atau selamatan pada saat usia kehamilan mencapai 4 bulan sedangkan Mitoni atau tingkepan merupakan syukuran atau selamatan pada saat usia kendungan mencapai 7 bulan dan dalam bahasa Madura disebut pelet kandung.

Dalam tradisi masyarakat muslim Indonesia selamatan 4 bulan atau 7 bulan kehamilan merupakan hal yang sudah lumrah dan menjadi tradisi turun temurun walaupun menggunakan istilah yang berbeda di beberapa daerah dan juga dengan ritual yang bermacam-macam, namun esensi dari semua itu adalah mendoakan calon buah hati agar lahir dengan selamat serta dijadikan anak yang shaleh mengabdi pada agama.

Di sebagian daerah khususnya Madura pada saat ngupati atau 4 bulanan tidak terlalu dirayakan namun ada beberapa masyarakat yang membaca doa dengan mengundang para tetangganya, sementara metoni atau pelet kandung pada saat kandungan berusia 7 bulan selamatan diawali dengan pemijatan perut calon ibu oleh seorang dukun beranak bersama itu pula disediakan dua kelapa gadding yang ditulisi huruf-huruf arab dan azimat untuk mendapatkan keberkahan dan konon penulisan azimat pada kelapa ini merupakan akulturasi budaya dimana sebelum masuknya islam masyarakat jawa menggambar kedua kelapa ini dengan Sang Hyang Wisnu dan Dewi Sri atau Arjuna dan Sumbadara tujuannya agar sang bayi berparas elok seperti yang dimaksud.

Bersamaan dengan hal itu pula dibacakan beberapa ayat suci al-Qur’an seperti surah Yasin, surah Yusuf agar calon bayi terlahir rupawan seperti Nabi Yusuf, surah Maryam agar calon bayi bisa menjaga kesuciannya dan surah Lukman agar calon bayi menjadi anak yang shaleh kemudian dilanjutkan dengan membaca ayat kursi bersama-sama agar calon bayi dihindarkan dari mara bahaya dan diakhiri dengan doa’ untuk keselamatan sang buah hati.

Setelah pembacaan surah-surah tersebut kemudian calon ibu akan dimandikan dengan kembang tujuh rupa agar ibu bersih sambil memegang telor yang ditaruh diantara kedua pahanya kemudian telor itu dibiarkan menggelinding ke tanah agar pecah, bahkan di sebagian tempat telor itu sengaja di injak agar pecah hal ini diyakini agar proses kelahiran dipermudah seperti mudahnya memecahkan telur, adapula yang pada saat dimandikan calon ibu memegang ayam muda kemudian setelah dimandikan ayam tersebut diberikan kepada dukun beranak tujuannya agar terhindar dari mara bahaya.

Beberapa rangkaian acara pelet betteng mulai dari perlengkapan acara sampai proses siraman/sumber foto: mahligai-indonesia.com

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat perpaduan tradisi jawa yang sarat akan simbol-simbol kejawen masih melekat kuat di tengah masyarakat kita dengan tradisi masyarakat muslim yang berdasarkan pada al-Qur’an dan Sunnah sehingga perlu kiranya kita pahami lebih dalam dengan menggali sumber hukum dari ritual dan tradisi yang berkembang ditengah-tengah masyarakat ini.

Pertama-tama kita coba melihat ritual ataupun doa yang dipanjatkan untuk janin yang masih berada dalam kandungan dimana hal ini pernah dicotohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Yang temuat dalam al-Qur’an :
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ. (البقرة: ١٢٨)
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. al-Baqarah : 128)

Dari sini kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim AS. Mendoakan anak cucunya yang masih belum lahir dan disisi lain Nabipun pernah mendo’akan janin sahabat beliau sebagaimana hadits riwayat Bukhari Muslim yang artinya : “Pagi harinya, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kejadian malam harinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Tadi malam kalian tidur bersama?” Abu Tholhah menjawab, “Ya.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah keduanya.” Lalu Ummu Sulaim melahirkan anak laki-laki.” (al-Hadits)

Disamping itu bagi siapa aja yang memiliki hajat dan ingin hajatnya terkabul, maka ulama’ menganjurkannya agar memperbanyak sedekah sebagaimana keterangan imam Nawawi dalam kitab al-Majmuk:
سْتَحَبُّ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِشَيْءٍ أَمَامَ الْحَاجَاتِ مُطْلَقًا) المجموع شرح المهذب ٤/٢٦٩)
وَقَالَ أَصْحَابُنَا: يُسْتَحَبُّ اْلإِكْثَارُ مِنَ الصَّدَقَةِ عِنْدَ اْلأُمُوْرِ الْمُهِمَّةِ. (المجموع شرح المهذب ٦/٢٣٣(
“Disunnahkan bersedekah sekedarnya ketika mempunyai hajat apapun. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 4, hal. 269).
Para ulama kami berkata, “Disunnahkan memperbanyak sedekah ketika menghadapi urusan-urusan yang penting.” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz 6, hal. 233).

Sementara itu banyak pula masyarakat yang menyalahkan selamatan 7 bulanan bahkan sebagian berpendapat sebaiknya selamatan dilakukan pada saat usia kehamilan mencapai 4 bulan didasarkan pada hadits yang menjelaskan tentang fase pertumbuhan janin dalam kandungan selama 120 hari atau 4 bulan pada saat malaikat meniupkan ruh kepadanya.

Beberapa perlengkapan ritual pelet betteng yang berlaku di masyarakat Jawa/sumber foto: mahligai-indonesia.com

Pendapat yang mengatakan dianjurkan berdoa pada masa 4 bulan usia kehamilan didasarkan pada hadits tidaklah salah sebagaimana berdoa pada masa 7 bulan usia kehamilan didasarkan pada ayat :
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS al-A’raf : 189).

Ayat ini memberikan isyarat agar kita memperbanyak do’a ketika usia kehamilan sudah memasuki masa-masa melahirkan.

Bila dalil penentuan 4 bulan maupun 7 bulan untuk melaksanakan kegiatan walimatul hamli sudah jelas disertai dengan baca’an-baca’annya lantas bagaimana dengan tradisi yang bekembang di masyarakat seperti penulisan azimat di buah kelapa dan memegang ayam maupun telur serta memecahkannya untuk menyimbolkan maksud dan tujuan tertentu?

Disinilah perlunya filterasi dari kita dalam memahami tradisi-tradisi tersebut, dan perlu kiranya kita urai satu demi satu seperti penulisan azimat berupa huruf-huruf al-Qur’an pada buah kelapa coba kita perhatikan hadits berikut :
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:” كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan.” (HR Muslim [4079]).

Dengan demikian azimat dalam Islam diperbolehkan asalkan hanya berniat tabarruk dan tidak meyakini azimat tersebut memberi pengaruh baik dan buruk, sementara itu hadits yang secara spesifik melarang penggunaan azimat:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ
Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “‘Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Hadits ini dikomentari oleh ibnu hajar : “Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepada-Nya.” (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181).

Menggelindingkan telur dengan harapan akan dilancarkan pada saat persalinan menurut Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub Pengasuh Pondok Pesantren Darus Sunnah, meng-istilahkan dengan al-du’a bil rumuz, doa menggunakan simbol. Dimana pendapat ini beliau didasarkan pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid al-Mazini yang melihat Rasulullah melakukan salat istisqa dan merubah posisi sorbannya untuk mengilustrasikan perubahan yang diinginkan dari masa panceklik menjadi masa yang subur.

Tapi beda hanya bila telur tersebut dipecahkan, maka disini terjadi tabdzir atau menyia-nyiakan harta yang dilarang oleh islam seperti halnya memegang ayam pada saat calon ibu dimandikan yang tidak kita pahami maksud dan tujuannya, walaupun setelah proses selesai ayam tersebut diberikan pada dukun beranak dengan niatan sedekah dan menolak segala mara bahaya, kenapa mesti ikut dimandikan? Disini penulis belum menemukan jawabannya.

Yang pasti sebagai muslim kita harus jeli dalam memfilter ajaran dan tradisi yang sudah turun temurun diajarkan pada kita agar tidak terjebak dalam lubang kesiyrikan, kita juga dilarang mengerjakan hal-hal yang belum kita fahami maksud dan tujuannya sampai kita mengetahui legalitasnya dalam agama.

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik