Nyai Sumtin, Istri Setia Laksana Sayyidah Khadijah

banner 160x600
banner 468x60

Sepasang suami-isteri dalam mengarungi rumah tangga laksana bahtera mengarungi luasnya samudera. Berbagai rintanganpun pasti akan dihadapi dalam mengarunginya. Sosok seorang Nyai Sum, begitu biasanya Nyai Sumtin, istri KHS. Abdullah Schal dipanggil. Lahir 31 Desember 1946 M di Desa Ngoro, Kabupaten Jombang. Setelah boyong dari Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, beliau menetap di rumah pamannya yang bernama Ust.Tajus Subki di Bangkalan. Hingga suatu ketika beliau berhasil menjadi juara pertama lomba Tilawah Al-Qur’an yang diadakan oleh GP Anshor Bangkalan pimpinan KH. Kholil AG, di plataran Masjid Agung Bangkalan.

Suaranya yang merdu tidak hanya memukau para juri dan penonton, tapi KHS. Abdullah Schal yang saat itu mendengarkan dari Pondok Demangan juga terpikat akan kemerduannya. Setelah melalui proses cukup panjang, akhirnya KHS. Abdullah Schal menikahi Nyai Sumtin.

Pilihan KHS. Abdullah Schal ternyata sangat tepat. Dalam masa-masa perjuangan mengembalikan eksistensi Pesantren Demangan. Nyai Sumtin berperan sangat besar mendampingi KHS. Abdullah Schal dalam suka maupun duka. Beliau laksana Sayyidatuna Khadijah yang sangat besar jasanya dalam mendukung keberhasilan dakwah Rasulullah.

Beliau juga merupakan tipe seorang istri yang sangat sabar, tabah, dan tidak pernah mengeluh dalam kegetiran hidup yang harus dijalani dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Sebagai seorang istri shalihah, beliau menjadikan rumah yang ditempati bersama suami dan putra-putrinya laksana “Baiti Jannati”.

Setiap malam saat sang suami sedang keluar berdakwah ke plosok-plosok desa, Nyai Sumtin tidak bersantai-santai di dalemnya. Beliau tiada henti-hentinya berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT untuk suami tercintanya. Hingga pada suatu ketika, dalam keheningan malam yang sunyi, dalam gemerisik bunyi tasbih yang beliau pakai sebagai teman dalam berdzikir, di puncak kekhusyukan seorang hamba yang wushul kepada Tuhannya, tiba-tiba ada sinar dari angkasa. Cahaya tersebut kemudian turun perlahan-lahan ke permukaan bumi. Nyai Sumtin terpana, sambil terus berdzikir tiada henti, beliau melihat cahaya tersebut kemudian memasuki tubuhnya. Dinginnya udara malam yang menusuk, tergantikan dengan rasa hangat yang menjalar dalam sekujur tubuhnya. Sejak peristiwa sufistik tersebut, Nyai Sumtin merasakan kehidupan ekonomi keluarganya berubah drastis. Rezekinya semakin dipermudah oleh Allah. Min haitsu la yahtasib.

Dari pernikahan dengan KHS. Abdullah Schal, Nyai Sumtin dikaruniai 13 orang putra-putri, yaitu: Nyai Hj. Muthmainnah, Lora Abd. Kholiq (wafat waktu kecil), Nyai Hj. Nur Bilqis, RKH. Fachrillah, Nyai Hj. Karimah, Nyai Hj. Zulaikho, Nyai Hj. Faidhoh, Nyai Hj. Ummu Kholilah (almarhumah), RKH. Fachruddin, RKH. Moh. Nasih, Nyai Laili (wafat waktu kecil), RKH. Moh Karror, Nyai Hj. Nailatul Farohah.

Kasih sayang beliau kepada putra-putrinya ditumpahkan setiap saat dan setiap waktu, tanpa membedakan satu dan yang lainnya. Sering kali beliau berpesan,“Jagalah ikatan persaudaraan di antara kalian, jika ada masalah apapun harus saling mengalah”.

Dikalangan para santri dan masyarakat luaspun, beliau sangat dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan dan senang bershadaqah kepada orang lain bahkan kepada para santri sendiri. Nyai Sumtin juga aktif mendampingi KHS. Abdullah Schal berdakwah keluar daerah Bangkalan.

Sampai pada akhirnya beliau wafat pada malam Rabu, 02 Jumadil Akhirah 1427 H, di Simpang Lumut Pangkal Pinang (sekarang masuk Propinsi Bangka Belitung). Inna lillahi Wa inna ilaihi rajiun, Kabar duka kewafatan beliau pun langsung tersebar ke Alumni dan Santrinya terutama yang ada di Demangan.
Malam itu setelah shalat Isya’, beliau masih bercerita tentang segala hal kepada para tamu dan keluarga H. Miskal (tuan rumah yang biasa ditempati).

Selanjutnya beliau masuk kamar dan istirahat. Kira-kira jam sebelas malam, beliau terbangun dan merasakan sakit di bagian dada, sebagaimana sering beliau rasakan sebelumnya. Setelah terbangun Nyai Sumtin meminta maaf kepada KHS. Abdullah Schal atas segala kesalahan yang pernah dilakukan selama menjadi istri. Menyaksikan hal tersebut KHS. Abdullah Schal diam saja karena memang tidak ada firasat apapun sebelumnya. Tapi Nyai Sumtin tiada henti meminta maaf dan meminta ridhonya, bahkan sampai memeluk erat seperti tidak mau berpisah. KHS. Abdullah Schal dengan segala gelagapan memaafkan segala kesalahan dan meridhoinya. Setelah itu Nyai Sumtin melepaskan pelukannya, seraya lisannya berucap,“Anakku doakan, Anakku doakan, Anakku doakan.”

Menyaksikan hal itu, KHS. Abdullah Schal menyadari keadaan isterinya sangat mengkhawatirkan, kemudian berinisiatif membawanya ke rumah sakit. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Asma “Allah” selalu terucap dari lisannya hingga akhirnya beliau wafat.

Sekalipun jasad beliau telah berbaring di alam kubur, tapi jasa-jasa beliau terhadap Pondok Pesantren Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan tak akan pernah hilang ditelan zaman dan tak akan pernah luntur ditelan waktu, karena sudah tertulis dengan tinta emas, dan terpatri dalam dada segenap keturunannya, santri, alumni, dan masyarakat luas yang sangat mencintainya.

Redaksi

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas