URGENSITAS BERPOLITIK KEUMMATAN SEBAGAI PENANGKAL FOBIA POLITIK

banner 160x600
banner 468x60

Oleh :
Ahmad Sukron, Spd. M.IP
Peneliti di Lembaga The Initiative Institute

Hiruk pikuk perkembangan politik yang tidak memberikan kepastian, telah menciptakan mindset fobia politik dikalangan masyarakat. identifikasi fobia politik sering terdengar bising ditelinga kita bahwa politik itu kotor, politik itu keji, politik itu menjijikkan dan bahkan banyak yang berkesimpulan bahwa politik itu tidak baik. Fobia politik ini muncul seiring dengan perilaku politik yang mendapatkan legitimasi dari rakyat dianggap belum mampu mengejawantahkan sistem politik yang berlaku, sehingga masyarakat merasa tidak terwakili oleh pejabat yang menerima legitimasi untuk menjalankan sistem pemerintahan yang sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

Sistem politik yang seharusnya menjadi nyawa baik buruknya kehidupan perekonomian masyarakat, justru dianggap mencengkram sisi kehidupan masyarakat. Kesempatan perilaku politik untuk melakukan kompromi (lobby) antar sesama politisi dalam mengambil kebijakan, telah menciptakan lingkaran syetan yang siap menghalalkan segala cara demi memudahkan misi untuk mendapatkan kekuasaan, menjalankan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaanya.

Perdebatan yang dibintangi akademisi, politisi dan LSM tentang “system politik yang salah? atau perilaku politik yang salah?” sampai saat ini masih belum menemukan ujung pangkal solusi untuk dinikmati masyarakat. Namun terlepas dari perdebatan tersebut, tentu masyarakat sudah semakin dewasa untuk mengetahui dan memahami bahwa baik buruknya sebuah Negara dalam mensejehterakan rakyatnya sangat tergantung pada pelaksanaan system politik yang berlaku. karena keberadaan sistem politik yang berlaku disetiap Negara pasti diambil dari sebuah proses yang berdasarkan falsafah bangsanya (Indonesia adalah Pancasila).

Penentuan kebijakan politik yang dihasilkan dari proses sangat panjang dan melibatkan perwakilan warga Negara, diharapkan tidak hanya dihuni oleh para perilaku politik yang berkarakter Singa (Lion) yang ketika berkuasa menjalankan kekuasaan sesuai kehendaknya, dan Rubah (Fox) yang ketika lion berkuasa selalu bersembunyi dan mengikuti perintah sang tuan Lion yang sedang mengaung demi melanggengkan kekuasaannya. Akan tetapi yang diharapkan masyarakat adalah perwakilan rakyat yang mau berpolitik keummatan, yakni berpolitik demi kepentingan kesejahteraan kehidupan masyarakat.

Berpolitik keummatan memang sangat jarang ditemukan di zaman now, bahkan seribu banding satupun (1000 : 1) kalau ada. Karena berpolitik keummatan adalah cara berpolitik yang benar-benar mengutamakan kebijakan sesuai dengan kebutuhan ummat. Hal ini biasanya didalam Negara demokrasi sering dikenal politik dari ummat, oleh ummat dan untuk ummat.

Berpolitik keummatan tentu harus berpegung teguh pada sikap independensi kebijakan politik yang tidak dapat diintervensi oleh kelompok – kelompok penekan dalam mengambil kebijakan yang berorientasi pada langgengnya kekuasaan. sebab jika berpolitik keummatan mampu diintervensi oleh kelompok-kelompok penekan, maka politik keummatan hanya akan menjadi symbol yang berakibat pada klaintalisme politik, dan ummat hanya dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan di dalam lingkup kerajaan – kerajaan kecil maupun kerajaan besar. oleh sebab itu, berpolitik keummatan harus tetap berpedoman pada nilai – nilai budi luhur falsafah bangsa ( Pancasila ), sehingga diharapkan dengan berkembangnya jamur fobia politik dikalangan masyarakat akan terkikis dengan terimplementasinya politik keummatan.

Selain menerapkan politik keummatan, tentu sebagai warga Negara yang baik, kita mempunyai kewajiban untuk menyadarkan masyarakat tentang kesadaran berpolitik. Karena jika masyarakat buta politik dengan cara tidak mau mendengar, tidak mau berbicara, dan tidak mau berpartisipasi dalam peristiwa politik. Maka akan terlahir para koruptor, kesenjangan sosial dan instabilitas menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, keputusan politik dianggap sebagai panglima tertinggi dalam menentukan kebijkan.

Sebagai bangsa besar dan mayoritas beragam islam yang hidup dalam Negara dengan sisitem demokratis, kita harus aktif berpolitik keummatan, karena jika tidak demikian, akan lahir Kezhaliman dari orang – orang fasik, sekuler, liberal dan atheis yang akan menelantarkan kita semua.
Setelah memahami urgensitas berpolitik keummatan, masihkah kita fobia terhadap politik, meskipun tidak memilih sekalipun bagian dari sikap berpolitik? tentu jawabannya tidak. Karena pilihan dan keaktifan kita dalam dunia politik keummatan sangat berarti untuk menentukan masadepan bangsa/Ummat. Oleh sebab itu, ayo kita aktif berpolitik keummatan !!!

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik