Ustadz Husain Syai’; Ladunni Dari Cicit Syaichona Muhammad Cholil

banner 160x600
banner 468x60

Santri adalah sosok yang taat selalu mengabdi dengan tulus dan ikhlas dalam pola hidup sederhana serta mengedepankan akhlaqul karimah dalam setiap tindakan dan perbuatannya sehingga dirinya menjadi uswah bagi orang-orang sekitarnya. Karakter santri tersebut tentunya bukan didapatkan secara otodidak bahkan melalui bimbingan keras dan arahan para kiyai serta para ustadz di Pondok Pesantren selama dia belajar mengenyam pendidikan agama tanpa meninggalkan kepentingan dunia.

Sebutlah Husain santri sepuh (senior) di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil yang berasal dari kecamatan Klampis, pada usianya yang menginjak 69 tahun ini beliau tetap semangat untuk mengabdi dan nasyrul ilmi (menyebarkan ilmu), keistiqomahan dan ketawadlu’annya patut diteladani.  Dia jarang atau bahkan tidak pernah memikirkan tentang urusan duniawi, yang ada dipikirannya hanya mengabdi dan terus mengabdi sampai akhir hayat untuk pondok pesantren Syaichona Moh. Cholil tempat beliau menimba ilmu.

Dilahirkan sekitar tahun 1948 beliau termasuk salah satu angkatan pertama dari 30 santri  yang mengaji kepada hadratus syaikh KHS. Abdullah Schal secara sorogan maupun terjadwal. Dimana saat itu pengajian yang diasuh oleh KHS. Abdullah Schal  meliputi Fathul Mu’in, Tafsir Jalalin, Fathul Wahab, dan Iqna’ untuk pagi hari.  Sedangkan setelah ashar kitab Syarh Sullam Safina, dan setelah Isya’ ditutup dengan kitab tauhid A’qidatul Awam untuk membekali serta membentengi akidah para santri.

Pada tahun 1983 Ust. Husain Syai’ mendapat amanah untuk mengajar para santri, namun berhubung masih belum ada sistem klasikal atau  madrasah seperti sekarang, maka metode yang beliau gunakan adalah sorogan yang bertempat di surau dan asrama pesantren.

Istiqomah dan disiplin mengajar santri putra Ust. Husain Syai’  kemudian diberi amanah untuk mengajar santri putri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil sampai tahun 2000 M.  dan sejak 2001 M. beliau lebih memilih fokus pada santri putra karena beberapa pertimbangan. Disamping sebagai pengajar Ust. Husain juga merupakan salah satu aktor berdirinya Madrasah Diniyah Salafiyah Al-Ma’arif Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, serta menjadi guru pertama dan sekaligus menjadi guru tertua yang aktif hingga saat ini sehingga tidak berlebihan kiranya bila beliau dijuluki gurunya guru (Grand Syeikh) sebab semua tenaga pengajar yang aktif hari ini 90 persen adalah murid beliau.

“Saat ini saya mengajar di tiga pondok pesantren diantaranya PonPes Syaichona Moh. Cholil, PonPes Al Hikam Kaskel Senenan Bangkalan, serta dua lembaga pendidikan lainnya, akan tetapi pondok pesantren dimana saya nyantri tetap saya dahulukan, oleh karenanya saya akan terus mengabdi semampu saya sampai ajal menjemput. Mungkin ini yang dinamakan barokah, meskipun tanpa harus bekerja keras membanting tulang, saya masih bisa menyekolahkan putra putri saya, alhamdulillah saya juga diberi barokah untuk menunaikan ibadaj haji dan membangun rumah sendiri” ungkap beliau dengan penuh tawadlu’.

Menurutnya mengabdi itu harus didasari ikhlas yang tinggi untuk mendapatkan barokah. Dan juga terdapat dua kunci utama untuk mendapatkan barokah yang pertama amalkan ilmu yang telah didapat dari pesantren,  yang kedua jangan memutus hubungan dengan pondok pesantren, karena berkunjung ke pondok pesantren sama halnya bersilaturrahmi dengan masyayikh.

Ada sebuah peristiwa menarik yang pernah dialami oleh beliau, pada suatu ketika ust. Husain Syai’ mengalami rasa gelisah dikarenakan  sulit untuk mengkaji dan memahami permasalahan Haid dan Nifas. Saking pusingnya, kegelisahan beliau terbawa mimpi, dalam mimpinya tersebut ust. Husain Syai’  merasa bertemu sekaligus mengaji kepada Nabi Khidir. Setelah terjaga Ust. Husain Syai’ semakin gelisah dengan mimpi yang dialaminya itu, hingga suatu saat ust. Husain Syai’ dipanggil oleh Kiyai Kholilurrohman (Kiyai Lilur) nampaknya beliau mengetahui kegundahan hati ust Husain, sejurus kemudian  Ra Lilur memberikan buah Sirsak busuk yang berbentuk farji (vagina) beliau berkata“Kakan patadek bik lek koleknah (makanlah, habiskan beserta kulitnya)”, karena saking taat dan tawadhu’nya tanpa ba bi bu ust. Husain Syai’ melahap sirsak itu sampai tak tersisa, apalagi menurut beliau rasanya jauh lebih nikmat dari buah Sirsak yang sebelumnya pernah ia makan.

Dan anehnya sejak saat itu ust. Husain Syai’ menjadi langsung faham dan alim dalam masalah ilmu kewanitaan, “ini adalah ladunni yang saya dapatkan di pondok pesantren Syaichona Moh. Cholil lewat karomahnya kiyai Lilur” terang ust. Husain Syai’ menceritakan.

Saat ini Ust. Husain Syai’ tetap istiqomah mengajar Akhlaq dan Tafsir untuk tingkat ibtidaiyah dan Tsanawiyah sedangkan untuk tingkat Aliyah beliau mengajar kitab hadits di Madrasah Diniyah Salafiyah Al-Ma’arif Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Redaktur: Mukafi Makki

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik