Dengan Jilbab Terangkat Martabat

Tidak ada komentar 246 views
banner 160x600
banner 468x60

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pada awalnya lemah, kemudian Allah berikan ia kekuatan, Faqir kemudian Allah cukupi kebutuhan hidupnya,Telanjang kemudian Allah berikan ia pakaian yang menjaganya dari dinginnya udara malam serta terik matahari yang berbinar memancarkan cahaya terang menyibak gugusan gumpalan awan.

Pada masa sebelum terutusnya Nabi Muhammad saw sebagai Rosul terakhir, perempuan hanyalah pelengkap dan penghibur bagi laki-laki. Eksistensi seorang perempuan masih dipandang sebelah mata. Puncaknya adalah pada masa Jahiliyah dimana seorang perempuan dapat dibuat warisan, anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap ” pembawa aib”, satu rumah tangga merasa tidak punya sesuatu yang dapat dibanggakan jika tak ada satupun anak lelaki. Barulah kemudian setelah Rosulullah saw diutus dengan risalah “rahmatan lil’alamiin”, pandangan terhadap eksistensi perempuan mengalami perubahan menjadi yang lebih baik dari semua peradaban yang pernah ada. Perempuan sudah menjadi patner bagi kaum laki-laki dan memiliki hak yang setara dengan yang didapat oleh kaum laki-laki sesuai kodratnya “Barangsiapa mengerjakan amal-amal sholeh dari laki-laki dan perempuan sedangkan ia beriman niscaya mereka akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didholimi sedikitpun”, An-Nisa’ ayat 124. Bahkan Dalam hal tertentu hak seorang perempuan melebihi hak yang dimiliki oleh kaum laki-laki seperti hak yang diberikan pada seorang ibu untuk lebih ditaati dan dimuliakan oleh anak-anak mereka tiga kali lipat  melebihi hak seorang ayah,  “…Ibumu, ibumu, ibumu. Ayahmu”,al-Hadits.

Sebenarnya aurat perempuan yang sangat potensial menimbulkan fitnah (godaan)  bagi kaum laki-laki bukanlah “rambut di kepalanya”. Karena rambut tidak memiliki jaringan saraf yang teraliri darah, sehingga ketika kita kaum lelaki (yang normal) menyentuh rambut seorang perempuan, bisa dipastikan tidak ada rangsangan seksual yang bergetar pada tangan kita.

Melihat kenyataan tersebut, perintah beljilbab (berkerudung) bagi perempuan muslimah tujuannya bukanlah untuk menolak timbulnya ketertarikan secara seksual dari para lelaki, sebab jarang sekali bahkan tidak mungkin seorang laki-laki tertarik atau terangsang hanya sekedar melihat “keindahan rambut” kepala seorang perempuan. tetapi perintah berjilbab adalah lebih sebagai penyematan sebuah “identitas” dan sebagai “alat uji keimanan”. Sebagai satu “identitas” adalah karena jilbab menjadi ciri khas yang membedakannya dengan perempuan non muslimah sehingga mudah dikenali. Sebagai “alat uji keimanan” karena penggunaan jilbab secara benar dan istiqomah hanya bisa dilakukan oleh perempuan yang benar-benar kuat imannya.

Perintah berjilbab diantaranya tertuang dalam alQur’an surah al-Ahzab ayat 59:

” Hai Nabi  katakan pada istri-istrimu, anak- anak perempuanmu dan istri-istri kaum mukminin ,” hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dalam ayat ini Allah memberikan perintah berjilbab pada kaum perempuan tujuannya adalah agar mereka mudah dikenali sebagai perempuan yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Dikenali sebagai perempuan baik-baik, sehingga dengannya ia terjaga dari gangguan dan godaan laki-laki jahil. Karena laki-laki biasanya segan untuk mengganggu perempuan baik-baik atau mulia. Oleh karena itulah seorang perempuan muslimah hendaknya mengenakan jilbab semata- mata karena menjalankan perintah Allah, bukan untuk “mempercantik diri” atau untuk “menutupi kekurangan fisik” di bagian kepala, apalagi bermaksud untuk memperdaya orang lain.

Jilbab bagi seorang perempuan merupakan salah satu “parameter” kadar keimanannya kepada Allah. Keimanan seorang wanita dapat dinilai dari seberapa baik ia mengenakan jilbabnya dan menjaga “kehormatan” jilbab yang dia kenakan. Menjaga kehormatan jilbab berarti ia harus menjaga sikap dan perilakunya serta penampilannya dalam berpakaian. Jadi perintah berjilbab secara ekplisit juga perintah untuk berperilaku dan berpenampilan yang baik. Sebab dengan berjilbab yang membuatnya dikenali sebagai perempuan muslimah yang taat kepada Allah, seorang perempuan punya tanggung jawab menjaga kemuliaan “almamater agamanya” yakni Islam.

Jilbab merupakan simbol kemuliaan bagi seorang perempuan muslimah sama seperti mahkota di atas kepala seorang ratu. Mahkota hanya bisa dikenakan jika seluruh tubuh sudah tertutupi secara baik. Jadi sangat lucu kelihatannya jika ada seorang perempuan muslimah yang berjilbab tetapi tidak mengenakan pakaian yang menutupi aurat disekujur tubuhnya.

Tidaklah salah anggapan bahwa “seorang  perempuan berjilbab belum tentu seorang muslimah yang baik. Tetapi muslimah  yang baik, yang memiliki komitmen kuat terhadap agamanya pastilah mau dengan rela hati mengenakan jilbab sebagai mahkota kehormatan yang diberikan oleh Allah SWT

Redaktur : M. FARID TUMYATHI

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik