Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan perintah dan kabar gembira kepada umatnya untuk membiasakan membaca al-Qur’an. Dalam sebuah hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibn Mas’ud, beliau bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ ألم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ. (رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح)
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak berkata alif, lam, mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. at-Tirmidzi, al-Jami as-Shahih Sunan at-Tirmidzi, Vol. V, hal 175.

Ulama yang secara terang-terangan menegaskan bahwa al-Quran merupakan penyembuh total terhadap berbagai penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit fisik adalah Ibn al-Qayyim. Dalam kitabnya Zad al-Maad Fi Hady Khayr al-Ibad, Vol. IV, (Bairut: Muassasah ar-Risalah, 1994), 352. Beliau mengatakan, Al-Quran adalah penyembuh total dari segala penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit fisik, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Dan tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai media terapi. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan meyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apapun tidak akan menimpa dirinya untuk selamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi. Jika diturunkan kepada gunung, maka ia akan menghancurkannya. Atau diturunkan kepada bumi, maka ia akan membelahnya. Maka tidak satupun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun fisik, melainkan dalam al-Quran ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan) nya.

Diantara para ilmuan yang telah berhasil melakukan uji coba dan penelitian secara ilmiah untuk membuktikan bahwa al-Quran dapat berpengaruh positif bagi kesehatan manusia, baik kondisi fisik maupun rohani.

Dr. Ahmad al-Qadi (Direktur Utama Islamic Medicine for Education and Research yang berpusat di Amerika Serikat, serta seorang konsultan ahli di sebuah klinik di Panama City, Florida), dengan penelitiannya di Florida Amerika Serikat, menemukan adanya pengaruh al-Quran terhadap kesehatan manusia. Ia mengatakan bahwa ada pengaruh menenangkan hingga mencapai 97% akibat mendengarkan al-Quran. Pengaruh tersebut bahkan terlihat dalam bentuk perubahan-perubahan fisiologis yang tampak melalui berkurangnya tingkat ketegangan syaraf (stres).

Al-Qadi menjelaskan lebih lanjut, pengaruh al-Quran terhadap tubuh seseorang juga terjadi pada daya tangkap kulit terhadap konduksi listrik, sirkulasi darah, detak jantung, kadar darah yang mengalir pada kulit, dan suhu kulit yang kesemuanya saling kait-mengait antara satu dengan yang lain, sehingga perubahan pada satu bagian akan berpengaruh pada bagian-bagian tubuh yang lain.

Penelitian al-Qadi ini semakin dapat menyingkap makna sisi lain terhadap firman Allah:
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الأعراف: 204)
“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapar rahmat.

Dr. Mohammad Kazemi Arababadi (Dosen di The Rafsanjan University of Medical Sciences Iran), dalam eksperimennya terhadap 107 mahasiswa keperawatan The Rafsanjan University of Medical Sciences Iran, membandingkan antara mereka yang diperdengarkan bacaan al-Quran dengan yang tidak diperdengarkan al-Quran, hasilnya menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor kesehatan mental yang signifikan pada mahasiswa yang diperdengarkan al-Quran. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa dengan mendengarkan al-Quran dapat dijadikan cara untuk meningkatkan kesehatan mental.

Prof. DR. Salih bin Ibrahim (Guru Besar Ilmu Kesehatan Jiwa di Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah), dengan penelitian ilmiahnya yang diselenggarakan di Universitas al-Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah, yang melibatkan mahasiswa dan mahasiswi sebanyak 170 dari Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah dan 170 mahasiswa dan mahasiswi dari Universitas al-Khairiyah Litahfidh al-Quran al-Karim Jeddah. Penelitian ini membuktikan bahwa semakin bagus hafalan al-Quran yang dimiliki seorang mahasiswa akan semakin meningkat pula kesehatan jiwanya.

Penelitian tersebut juga menjadi nasehat bagi para guru untuk senantiasa meningkatkan standar hafalan al-Quran bagi murid-murid mereka, karena memiliki manfaat dan pengaruh yang bagus untuk kesuksesan belajar dan kesehatan jiwa mereka.

Prof. Dr. Nurhayati binti Zainal Abidin (Guru Besar di Institut Ilmu Biologi Fakultas Sains Universitas Malaya), dalam seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997 mengatakan bahwa al-Quran dapat memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat al-Quran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan al-Quran lebih dari itu. Selain mempengaruhi IQ, EQ, juga mempengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Hasil penelitian ini menunjukkan betapa Maha benarnya Allah yang telah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد: 28)
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

Betapa luar biasanya al-Quran, sistem tubuh ternyata memberikan respon positif terhadap bacaan al-Quran meskipun si empunya tubuh tidak memahami artinya. Apalagi kalau yang membaca atau mendengarkan memahami makna bacaannya, maka efeknya akan lebih dahsyat lagi.

Redaktur: M. Rofii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.