EFEKTIVITAS ZIKIR DALAM MENGONTROL DIABETES

Tidak ada komentar 702 views
banner 160x600
banner 468x60

EFEKTIVITAS ZIKIR DALAM MENGONTROL
DIABETES MELLITUS DALAM PERSPEKTIF
PSIKONEUROIMUNOLOGI

Oleh :
Ns. Faisal Amir. S. Kep., M.Si*

Abstrak
Zikir dan relaksasi diterjemahkan sebagai stimulus yang mampu mengubah
disstres (kondisi tidak seimbang) menjadi eustres (kondisi seimbang). Tujuan
penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh zikir dan relaksasi terhadap perbaikan
persepsi stres dan penurunan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus.
Jenis penelitian adalah quasi eksperimen dengan the non randomized control
group pretest postest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien
diabetes mellitus tipe 2 di Poli Interna RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu Bangkalan.

Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kontrol dan
intervensi masing-masing berjumlah 14 responden. Pertama responden diminta
mengisi lembar informed consent, identitas, dan quesioner DASS 42 (Depresion
Anciety Stress Scale 42) dan diperiksa kadar glukosa darahnya sebagai data awal
sebelum perlakuan. Kemudian selama 6 minggu kelompok intervensi diberikan
perlakuan zikir dan relaksasi, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan health
education. Setelah 6 minggu kedua kelompok responden diminta mengisi DASS
42 dan diperiksa kadar glukosa darahnya sebagai data setelah perlakuan. Data
selisih sebelum dan setelah perlakuan dilakukan uji normalitas menggunakan
Shapiro-Wilk dan didapatkan hasil distribusi data normal sehingga uji beda
menggunakan independent T test dengan α = 0,05. Zikir dan relaksasi secara
signifikan dapat memperbaiki persepsi stres dengan p value (0,001) < 0.05 dan
menurunkan kadar glukosa darah dengan p value p (0,001) < 0,05. Zikir dapat
memperbaiki persepsi stres sehingga hypothalamic pituitary adrenal (HPA) axis
menghasilkan hormon kortisol dalam kadar seimbang. Kortisol dalam kadar yang
seimbang akan memperbaiki berbagai proses metabolisme tubuh sehingga dapat
berfungsi dalam kontrol kadar glukosa pada pasien diabetes mellitus.

Kata kunci : Zikir, Persepsi Stres, Glukosa Darah, DM Tipe 2

Latar Belakang
Diabetes melitus merupakan sindrom kronik progresif dengan gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan penurunan sekresi
insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin sehingga mengarah
pada keadaan hiperglikemia (Guyton and Hall, 2008; Black and Hawks, 2009).
Prevalensi diabetes mellitus di Indonesia menurut IDF (International Diabetes
Federation) diperkirakan 4,6% dari 125 juta penduduk, yaitu sekitar 5,6 juta pada
tahun 2000. Diperkirakan tahun 2020 akan didapatkan sekitar 8,2 juta penderita
diabetes mellitus (Soegondo, 2009). Jawa Timur menunjukkan angka 605.975
penduduk diatas usia 15 tahun menderita diabetes mellitus (Kemenkes RI, 2014).
Pasien diabetes mellitus harus terhindar dari stres baik fisik maupun psikis.

Hal ini dikarenakan stres akan meningkatkan kadar glukosa darah terutama pada
pasien diabetes mellitus. Respon stres lebih bersifat biologis yang melibatkan
hypothalamic pituitary adrenal (HPA) axis dan autonomic nervous system (ANS)
(Putra, 2011). Stres menurut Hans Selye (1936) akan mengakibatkan hipotalamus
melepaskan corticotropin releasing hormone (CRH). CRH merangsang hipofisis
anterior mensekresi adrenocorticotropin hormone (ACTH), dan meningkatkan
kortisol (Tortora and Derrickson, 2009). Kortisol merangsang glukoneogenesis,
lipolisis, dan proteolisis (Sherwood, 2010), yang akhirnya akan meningkatkan
kadar glukosa darah pada pasien Diabetes Mellitus (Amir, 2017).

Zikir dan relaksasi berfungsi sebagai mind body therapy yang memicu
persepsi stres positif (Lorentz, 2006). Persepsi yang positif bisa terbentuk dengan
menguatkan harapan yang realistis terhadap kesembuhan, pandai mengambil
hikmah, dan ketabahan hati (Nursalam, 2007). Zikir mampu menenangkan jiwa
dan memperbaiki persepsi stres sehingga HPA Axis sebagai jalur respon stres
seimbang dalam mensekresi kortisol. Kadar kortisol seimbang dapat menurunkan
kadar glukosa darah dan hemoglobin HbA1c (Amir, 2017). Hal ini sesuai dengan
apa yang telah telah tertera dalam Al-qur’an bahwa zikir akan menentramkan jiwa
dan saat seorang hama meminta kesehatana dengan ikhlas dalam zikir pasti Allah
akan mengangkat segala penyakit dari jiwa dan raganya.

Q.S. Ar – Rad (13) : 28 Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati
menjadi tenteram”

Q.S. As-Syu’ara’ 80 Artinya : “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”

Ayat diatas adalah petunjuk Allah yang kalau diterjemahkan dalam bahasa
ilmiah akan menjadi ilmu terapan dalam kehidupan. Secara medis aplikasi konsep
kesehatan diatas dikenal dengan istilah psikoneuroimunologi. Kedepan kesehatan
dan metode penyembuhan akan bersifat personalized medicine, dimana individu
akan berespon terhadap seluruh potensi jiwa dan raganya untuk mencapai suatu
titik keseimbangan fisiologis yang mudah dicapai dengan metode zikir.

Metode dan Hasil Penelitian
Jenis penelitian quasi eksperimen dengan the non randomized control group
pretest postest design. Sampel penelitian masing-masing 14 orang pada kelompok
kontrol dan kelompok intervensi. Pertama responden mengisi lembar informed
consent, identitas, quesioner Depresion Anciety Stress Scale 42 (DASS 42), dan
diambil darah untuk diperiksa kadar glukosa darah pada pukul 06.00-07.00 WIB
sebagai data sebelum perlakuan. Lalu kelompok intervensi diberikan zikir dengan
durasi 10-15 menit setiap pagi, petang dan menjelang tidur selama 6 minggu.
Sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan health education. Setelah 6 minggu
responden pada kedua kelompok diminta mengisi DASS 42 dan diperiksa kadar
glukosa darahnya sebagai data setelah perlakuan. Kemudian data hasil penelitian
sebelum dan sesudah zikir dilakukan uji beda menggunakan independent T test
dengan tingkat pemaknaan atau nilai α = 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi yang diberikan
zikir mengalami penurunan stres menurut skala DASS 42 dari nilai 23,43 menjadi
15,57. Sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan nilai rerata
DASS 42 dari 16,71menjadi 23,43. Hasil uji beda menggunakan independent T
test menunjukkan hasil signifikan dengan nilai p (0,001) < 0.05 yang artinya zikir
secara ilmiah mampu menurunkan stres pada pasien diabetes mellitus.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa nilai rata-rata kadar glukosa
darah kelompok intervensi mengalami penurunan dari 315 mg/dl menjadi 173
mg/dl. Kelompok kontrol juga mengalami penurunan, namun selisih penurunan
tidak sebanyak pada kelompok intervensi, yaitu dari 295 mg/dl menjadi 250
mg/dl. Uji statistik nilai p (0,001) < 0,05 yang artinya zikir secara ilmiah mampu
menurunkan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus.

Pembahasan
Zikir Menurunkan Stres pada Pasien Diabetes Mellitus.
Pasien diabetes mellitus cendrung mengalami stres karena berbagai faktor.
Hasil penelitian di Karachi-Pakistan menyimpulkan bahwa sebagian besar pasien
diabetes mellitus tipe 2 mengalami kecemasan (Khuwaja et al, 2010). Stres
fisiologis bisa mengakibatkan hiperglikemi, memicu ketoasidosis diabetes (KAD),
hiperosmolar hiperglikemik non ketosis (HHNK), dan stres psikologis berdampak
negatif terhadap pengendalian diabetes (Smeltzer and Bare, 2009). Gaugler et al.,
(2004) dalam Potter & Perry (2009) menyatakan bahwa penyesuaian diri terhadap
ketidakpastian pengobatan dan penyakit seperti obesitas, hipertensi, diabetes,
asma, dan penyakit arteri koroner menyebabkan stres situasional pada semua usia.

Zikir sebagai mind body therapy merupakan aplikasi psikonueroimunologi
yang mendasari prinsip keseimbangan holistik untuk menurunkan stres. DhabharMcEwen
mengajukan konsep stres yang mengakomodasi internal mental events
menurut Skinner atau learning process menurut Ader ataupun cognition process
menurut Weiten (2004) yang dinamakan stress-perception (Putra, 2011). Zikir,
membaca al-qur’an, dan shalat adalah terapi religi yang mampu menurunkan stres.
Shalat tahajud dengan penghayatan memdalam, khusyuk, ikhlas dan istiqomah
dapat menumbuhkan motivasi positif dan koping yang konstruktif (Sholeh, 2005).
Apabila individu ikhlas dan khusyuk dalam zikir, maka Allah akan hadir
memberikan ketenangan jiwa sehingga persepsi stres akan positif dan respon stres
akan seimbang (Amir, 2017). Hal ini sebagaimana Al-qur’an Surah Ar-Rad ayat
28 yang menjelaskan bahwa “saat mengingat Allah, hati menjadi tenang”

Q.S. Ar – Rad (13) : 28 Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati
menjadi tenteram”

Zikir dengan kesungguhan menghadirkan Allah mampu mengoptimalkan
pesan sehat dan sejahtera kedalam diri seorang individu melalui ketenangan jiwa.
Zikir dengan keberserahan mendalam kepada Allah mampu memperbaiki koping
individu, meningkatkan kualitas hidup serta mengontrol kadar glukosa darah dan
mempercepat kesembuhan diabetes mellitus (Amir, 2017). Zikir adalah kekuatan
tertinggi dalam menurunkan stres, membangkitkan respon relaksasi, mengurangi
gejala depresi dan berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kontrol
gula darah (Asdie, 2005). Zikir dan shalat mengandung kekuatan spiritual yang
meningkatkan kepercayaan diri, rasa optimis dan berpengaruh pada penyembuhan
penyakit (Hawari, 2005).

Zikir sangat efektif untuk menghasilkan ketenangan jiwa dan kenyaman
fisik yang berdampak pada adaptasi terhadap penyakit. Individu yang khusyuk
berserah diri sepenuhnya kepada Allah, maka ia tidak akan menemui kesedihan,
kegelisahan, kekecewaan dan ketakutan. Seorang hamba yang lebur dalam zikir,
maka yang diingatnya hanyalah Allah, sehingga hadirlah rasa nyaman, tenang dan
optimis dalam menghadapi kehidupan. Zikir yang disertai peyerahan diri kepada
Allah akan menghasilkan sinergisitas antara emosi, pikiran dan respon fisiologis
tubuh terhadap sehat-sakit dan mampu merubah distress (kondisi tidak seimbang)
menjadi eustress (kondisi seimbang) (Amir, 2017).

Q.S. Al-Baqarah (2) : 112 Artinya : “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada
Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati”

Zikir Menurunkan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Mellitus
Zikir yang dilakukan secara ikhlas dapat menimbulkan perasaan bahagia
sehingga regulasi hormon dan metabolisme tubuh seimbang. Mekanisme jalur
respon stres melalui HPA Axis akan seimbang dalam menghasilkan CRF, ACTH,
dan kortisol. Kortisol yang seimbang memperbaikan metabolisme karbohidrat,
lemak dan protein sehinggaa efektif meregulasi kadar glukosa darah. Penelitian
ini membuktikan bahwa perbaikan persepsi stres akan penurunan kadar hormon
kortisol yang berimplikasi terhadap penurunan kadar glukosa darah (Amir, 2017).

Zikir dan relaksasi dalam sebuah latihan pasrah diri pada pasien diabetes
mellitus efektif mengurangi gejala depresi (Banjari, 2008). Gejala depresi yang
dialami oleh pasien diabetes menurun melalui jalur mood, motivasi terhadap diri
sendiri, keseimbangan jalur HPA dan jalur hormonal lainnya serat perbaikan
nafsu makan. Keterlibatan berbagai faktor nuero hormonal berdampak pada
regulasi glukosa, bukan hanya kortisol namun juga hormon lain seperti endorphin.
Beberapa pendapat menjelaskan bahwa sekresi endorphin (hormon kebahagian)
dapat ditingkatkan dengan zikir (Haruyama, 2011 ; Goldstein (1972) dalam Saleh,
(2010). Ketenangan jiwa mendukung pengontrolan kadar glukosa darah melalui
mekanisme relaksasi. Relaksasi akan merangsang hipotalamus mengatur dan
menurunkan aktifitas sistem saraf simpatis dengan menurunkan aktivasi sistem
hipotalamus pituitary adrenal Axis (HPAA) dan sympathoadrenal medular
(SAM). Kondisi ini menghambat produksi dan aktivasi hormon stres seperti
adrenalin dan kortisol. Kortisol yang menurun memicu serangkaian perubahan
fisiologis seperti penurunan tekanan darah, perlambatan denyut jantung, terjadi
pebaikan oksigenasi dan penurunan metabolisme tubuh (Smeltzer & Bare, 2010;
Anderson & Taylor, 2011).

Zikir dengan kepasrahan total kepada Allah mampu melawan stres mayor
maupun minor dengan menggunakan berbagai jalur fisiologis. Jika tres secara
psikis menurun maka secara biologis akan mengoptimalkan sekresi kortisol. Hans
Selye (1976) menjelaskan bahwa paparan berkepanjangan pada kadar kortisol
yang tinggi terutama pada stres fase ke-3 (exhaustion stage) akan menyebabkan
pemborosan energi, supresi terhadap sistem imun, ulserasi gastrointestinal, dan
kegagalan sel beta (β) pankreas (Tortora and Derrickson, 2009). Kortisol juga
meningkatkan proses glukoneogenesis, lipolisis, dan proteolisis (Smeltzer and
Bare, 2008 ; Silverthorn, 2010 ; Sherwood, 2011), menghambat penggunaan
glukosa oleh banyak jaringan (kecuali otak) (Sherwood, 2011). Kortisol dengan
segala efek metabolisnya harus seimbang terutama pada pasien diabetes mellitus.
Salah satu metode yang bisa diaplikasikan dalam usaha menyeimbangkan kortisol
dan gkukosa darah adalah melalui zikir sebagai mind body therapy.

Zikir adalah aktivitas spiritual yang jika dilakukan dengan pengaturan
yang baik, fokus, istiqomah dan ikhlas akan mampu menurunkan stres. Persepsi
stres yang baik akan berimplikasi positif terhadap mekanisme respon stres melalui
jalur hipotalamus pituitary adrenal Axis sehingga terjadi keseimbangan dalam
sekresi kortisol. Keseimbangan kadar kortisol darah akan mengurangi berbagai
efek merugikan terhadap metabolisme karbohidrat, lemak dan protein serta efektif
dalam mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus (Amir, 2017).
Apabila kadae gula darah terkontrol, maka berbagai komplikasi diabetes mellitus
tidak akan terjadi, bahkan jika zikir dilakukan secara khusyuk dan istiqomah akan
datang pertolongan Allah berupa kesehatan dan kesembuhan dari berbagai macam
penyakit. Disinilah rahasia keseimbangan diri dan alam semesta, Allah berfirman
bahwa apabila seorang hamba sakit, Dialah yang akan menyembuhkan.

Q.S. Asy-Syu’ara (26) : 8080. “dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”

Kesimpulan
Zikir menimbulkan ketengan jiwa yang efektif dalam menurunkan stres sehingga
tubuh seimbang dalam menghasilkan kortisol yang berdampak pada stabilitas
metabolisme dalam mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus.

*IKATAN ALUMNI AKPER PAMEKASAN
THIBBUN NABAWI MADURA CENTER
2017

Daftar Pustaka
Amir F, 2017. Zikir dan Relaksasi Meperbaiki Persepsi Stres, Menurunkan kadar
Kortisol, Glukosa Darah, dan HbA1c Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe
2 dengan OAD (Tesis). Universitas Airlangga. Surabaya. hal 74-90
Asdie AH, 2005. Patogenesis dan terapi diabetes mellitus tipe 2. MEDIKA,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Asy’arie M, 2012. Tuhan Empirik dan Kesehatan Spiritual, editor Taufiq Pasiak,
Centre For Neuroscience (C-NET). UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta.p.
131-145
Ciechanowski, PS, Katon WY, Russo JE, 2000. Impact of Depression on
Adherence, Funcition, and Cost, Arch Intern Medd; 160: 3278-3285
Damas T, Arifin T, & Zulfikar A, 2013. Al-quran Tafsir Jalalain. PT. Suara
Agung. Jakarta. hal. 20, 24, 29, 34, 253, 266, 291, 423, 424, 465, 481, 504,
514, 559
Guyton AC and Hall JE, 2008. Buku ajar fisiologi kedokteran. Alih bahasa:
Irawati, dkk. Edisi 11. Cetakan I. EGC. Jakarta. hal. 1187-1199
Hawari D. 2005. Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Jakarta:
Fakultas Kedokteran-Universitas Indonesia. hlm. 5-8.
Kemenkes RI, 2014. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan
R.I : Situasi dan Analisis Diabetes. Jakarta. hal. 1-6
Khuwaja AK, Lalani S, Dhanani R, Azam IS, Rafique G, White F, 2010. Anxiety
and depression among outpatients with type 2 diabetes: A multi-centre
study of prevalence and associated factors. Diebetology & Metabolic
Syndrome. 2 http://www.dmsjournal.com/content/ 2/1/72
Kumar V, Abbas KA & Aster JC, 2013. Robbins Basic Pathologic Ninth Edition.
Elsevier Saunders. Canada. p. 739-744
Lorentz M, 2006. Stress and Psychoneuroimmunology Revisited: Using Mind
Body Interventions to Reduce Stress. Alternative Journal of Nursing.
Edition. 11. p. 1-11
Nursalam, 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV. Salemba
Medika. Jakarta. hal.33
Potter AP and Perry GA. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep
Proses dan Praktik edisi 4. EGC. Jakarta. hal 267-277, 476-477, 564-573
Putra ST, 2011. Psikoneuroimunologi Kedokteran Edisi 2. Airlangga University
Press. Surabaya. hal. 5-8, 24-25, 30-36
Sherwood L, 2011. Human Physiology : From Cell to Systems 7 Edition.
Brooks/Cole Cengage Learning. USA. p. 675, 700-712
Sholeh M, 2005. Tahajud Manfaat Praktis Ditinjau Dari Ilmu Kedokteran.
Yogyakarta: Forum Studi Himanda, hal: 10-14, 24-26, 31, 33-36
Silverthorn DU, 2010. Human Physiology an Integrated Approach Fifth Edition.
Pearson Benjamin Cummings. San Francisco. p. 760
Smeltzer SC and Bare BG, 2009. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah
Brunnert & Suddarth edisi 8. EGC. Jakarta. hal 1280
Soegondo S, 2009. Prinsip penanganan diabetes, insulin dan obat oral
hipoglikemik oral, dalam Soegondo, S., Soewondo, P., & Subekti. I. Ed.
Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu. FKUI. Jakarta. hal. 111-133
Tortora GJ and Derrickson B, 2009. Principles Of Anatomy and Physiology
Twelfth Edition. John Wiley & Sons, Inc. USA. p. 675 – 676

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik