Tausiyah Kebangsaan Maulana Al-Habib Luthfi bin Yahya

banner 160x600
banner 468x60

Asscholmedia.net, Jakarta, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggelar tausiyah kebangsaan dengan mengundang ribuan jamaah NU dan Muhammadiyah di kawasan silang Monumen Nasional (Monas). Tausiyah ini digelar untuk memperingati Hari Pahlawan dan Maulid Nabi Muhammad saw, 1439 H, Minggu (26/11/17) malam.

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Sandiaga Uno juga hadir ditengah jamaah dan membuka tausiyah kebangsaan. Acara tersebut dikawal oleh Polisi Pamong Praja bersama Polda Metro Jaya, Banser NU, TNI dan Dinas Perhubungan DKI.

Pengamanan kita kerahkan 1000 personel Satpol PP, 300 Banser NU, 150 TNI, 200 Polisi dan 150 Dishub, ujar Kasatpol PP DKI, Yuni Wahyu.

Pada acara tersebut, al-Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan sebagai pengisi tausiyah kebangsaan.

Al-Habib menjelaskan, sebanyak apapun kitab tentang Maulid, kitab tersebut masih belum habis untuk bisa memuji Nabi Muhammad dan tidak mungkin akan habis sekalipun kitab itu menumpuk, karena kebesaran yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad lebih daripada segala-galanya.

Salah satu tujuan maulid adalah “Syukur”. Karena dengan adanya baginda Nabi Muhammad saw maka kita mengenal (Allah, Agama dan Akhlak); kita mengerti Iman dan Islam, Islam diturunkan, al-Quran diturunkan, kita bisa membedakan antara haq dan bathil, kita bisa mengenal Allah Wahdahu La Syarikalah, kita mengerti Arkanul Iman, kita mengerti akhlak terpuji dan tidak terpuji, kita mengerti taat kepada Allah, Rasul-Nya, Negara dan pemerintah-Nya, kedua orang tua, dan kepada guru-guru kita.

من لم يشكر الله لم يشكر الناس , Maka kita awali sebelum kita mengenal االله اكبر kenal dulu sama baginda Nabi saw, karena beliaulah yang mengenalkan الله أكبر. Kenali pintunya baru kenal Allah (kenalilah Nabi-mu baru kenal Allah).

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam tidak dipanggil langsung namanya oleh Allah, tetapi dengan nama kebesaran nya (يس، يا ايها النبي، يا ايها الرسول، يا مزمل، يا مدثر), padahal bebas Allah memanggil Ya Ahmad atau Ya Muhammad.

Salah satu ibrahnya adalah mengajarkan kita berperilaku sopan, berakhlak dan menghargai orang lain.
Satu sisi bagaimana Allah memanggil kepada orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak Nabi Muhammad selalu didengungkan dan indahnya luar biasa.

Kita semestinya malu kepada Allah, yang mana kita sangat dihargai dengan panggilan “يا ايها الذين امنوا (wahai orang-orang yang beriman)”, baik dalam perintah maupun larangannya. Luar biasa cintanya Allah kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pun menghargai para pahlawan dan pejuangnya di era itu, diantara buktinya adalah adanya shahabat yang di juluki “Saifullah” (pedang Allah), “Asadullah” (singa Allah), dan seterusnya.

Satu sisi ketika Rasulullah saw, telah dilahirkan di Mekkah, setelah itu di hijrahkan bukan karena tuntutan perut atau takut tapi karena tuntunan wahyu. Begitu pindah, sektor ekonomilah yang pertama kali dibangun Rasul ketika pertama kali sampai ke Madinah.

Seharusnya kita “bangsa Indonesia” juga demikian supaya tidak bergantung. Jangan dikira Rasulullah bukan ahli pertanian, ahli ekonomi. Nah kita sekarang bangun ekonomi, hidupkan marketing, bangun rumah sakit yang modern, bangun fakultas perguruan tinggi khusus dunia pertanian, kedokteran dan lain-lain, bukan produksi khilafiah yang kita gelar.

Eropa sudah maju, dia membangun nuklirnya, sekatnya dan lainnya, ilmu kedokterannya maju, ilmu lainnya juga maju, ekonomi dan dolar dipegang oleh mereka sedangkan kita hanya rebut saja, pilkada Kiai sama kiai tidak akur, ustad sama ustad tidak akur, habib sama habib tidak akur karena berbeda pilihan. Ayok bangun Indonesia, jangan tidur terus, masalah khilafiah terus, kita kalah terus.

Seharusnya kita malu dan semestinya kita tergugah, melihat para Auliya yang meskipun sudah meninggal ratusan tahun masih dapat memberikan penghidupan kepada yang masih hidup, masih bisa membangun ekonomi kerakyatan, seperti; Habib Husein (Luar Batang), Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Gunung Djati, Syaikh Hasanuddin (Banten) dan lain-lainnya. Di sekeliling mereka semua terdapat pasar yang ramai yang bisa memakmurkan masyarakatnya.

Imam Jamaluddin Husain yang pertama kali datang ke Indonesia untuk dakwah dengan 90 ulama dan berkumpul di Pasai. Mereka adalah para ahli di bidangnya masing-masing. Yang ahli ekonomi mengajarkan ekonomi, yang ahli pertanian mengajarkan pertanian, tidak terlepas dengan akhlak-akhlak mereka yang luar biasa karena itu senjata paling ampuh yang dilakukan oleh para Auliya. Tutur katanya, matanya, telinganya, perilakunya, semuanya menunjukkan من أهل لا اله إلا الله, selalu bercermin kepada Baginda Nabi Muhammad, yang selalu menaburkan cahaya رحمة للعالمين.

90 tokoh, disusul oleh Maulana Malik Ibrahim, kemudian Ibrahim Asmoroqondi, ulama-ulama al Maghrabi. Pada waktu di Aceh, Pasai, begitu beliau-beliau tidak berpangku tangan membantu pemerintahan yang berlaku pada saat itu, bagaimana cara mengusir penjajah Portugis dan seterusnya hingga sampai di Malaka, tapi sayangnya Malaka jatuh ke tangan portugis (penjajah) padahal sultan Mahmud Syah terkenal dengan kekuatan penyebaran dunia Islam pada saat itu, mengapa bisa runtuh? Dilakukan pembusukan, penggembosan dari dalam, bagaimana membuat hoax agar tidak percaya dengan; Pemerintah, TNI, Polisi, Tokoh-tokoh ulama dan umaro. Kalau ini sudah merata (seperti Syuriah pertama kali dilakukan oleh oknum-oknum dengan cara pembusukan), maka dengan begitu Indonesia mudah digembosi. Tinggal Indonesia dibagi menjadi berapa bagian.

Sebagai ikhtitam pada tausiyahnya, al-Habib berseru dengan tegas pada jamaah, Wahai bangsaku yang ku banggakan, relakah Negerimu terpecah belah? Tunjukkan kalau kita jaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Tinggal mengisi kemerdekaan Indonesia. Buktikan kami bangsa yang tidak mengecewakan para leluhur kita yang ikut mengibarkan merah putih. Merah putih berkibar di Indonesia bukan hadiah tapi berdarah penuh perjuangan oleh para ulama, para tokoh bangsa Indonesia.

Redaktur :Rofi el-ponty

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas