ARTIS BERKUNJUNG KE PESANTREN, SIAPA TAKUT?

Tidak ada komentar 430 views
banner 160x600
banner 468x60

Kadang kita mendengar suara sinis ketika ada seorang artis, selebritis ataupun politikus yang berkunjung ke pondok pesantren, seakan-akan mereka tidak pantas menyentuh “kesucuian” tanah pondok pesantren dan mencium “keharuman” dinding-dindingnya.

Seorang manusia siapapun dia memiliki hak yang sama dengan manusia yang lain. Seorang muslim apapun profesinya memiliki hak untuk berusaha menjadi lebih baik. Memiliki hak untuk memperoleh nilai-nilai kebaikan di manapun adanya, termasuk di masjid-masjid ataupun di tempat-tempat mulia lainnya seperti pondok pesantren.

Jangankan seorang artis, selebritis ataupun tokoh politis, seorang pelacur sekalipun tidak boleh kita larang untuk masuk ke masjid-masjid dalam rangka ibadah, dan ke pondok pesantren untuk belajar tentang agama Allah. Mereka berhak untuk menjadi orang yang baik.
Kita boleh melarang masuk ke dalam pondok pesantren ataupun masjid terhadap mereka yang punya i’tikad tidak baik, seperti menampakkan sikap atau tindakan yang mencerminkan penghinaan terhadap masjid-masjid dan pondok pesantren dengan ucapan atau perbuatan. Selama mereka bersikap “sopan”, tak seorangpun diantara kita yang boleh mengusir mereka. Justru kita harus memberikan apresiasi terhadap mereka, karena mereka masih bisa menyisihkan waktu untuk berkunjung. Siapa tahu setelah mereka merasakan dan melihat langsung “dunia pesantren”, bersemailah di hati mereka “benih-benih cinta” terhadap pondok pesantren, yang akan menumbuhkan kecintaan terhadap para ulama dan nilai-nilai kebaikan Islam yang diajarkan.

Oleh karena itu dalam sejarah pondok pesantren, khususnya Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil ada cerita bagaimana seorang Kafir Tionghoa (Cina) yang diterima dengan baik sebagai tamu oleh Syaichona Moh. Cholil untuk meminta semacam doa/mantra-mantra. Bagaimana pula para Kiyai pemangku pondok pesantren bersedia menerima tamu yang berstatus penjudi, pemabuk dan lain-lain. Karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan larangan menerima mereka sebagai tamu ataupun sebagai murid. Justru yang ada adalah perintah untuk menerima tamu dengan sambutan yang baik. ((“barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir haruslah ia memuliakan tamunya”. Al-Hadits)).

Seorang kafir hanya dilarang masuk ke Masjid al-Haram ((Sesudah tahun ini tidak boleh seorang musyrik masuk ke dalam masjid kita ini (Masjid al-Haram) selain kafir mu’ahad dan para pelayan mereka”. ((Al-Hadits)).

Memang begitulah seharusnya Pondok Pesantren, menerima siapapun yang datang berkunjung asalkan dengan niat dan tujuan yang baik dan menjunjung tinggi aturan dan nilai-nilai kesopanan yang berlaku di dalamnya sebagai tempat yang penuh kebaikan dan keberkahan. Tak ada alasan menolak siapapun yang datang. Sebab melakukan penolakan terhadap mereka berarti menghalangi mereka untuk menjadi orang yang baik. Dan sikap demikian bertentangan dengan ajaran Islam. Bukankah Allah dan Rasulullah tidak pernah melarang seorang muslim masuk ke dalam masjid selama ia tidak berniat melakukan sesuatu yang dapat menodai dan merusak kehormatan masjid. Bukankah setiap muslim entah itu seorang penjudi, pemabuk dan perampok boleh datang melakukan haji ke Baitullah?. Lebih mulia mana pondok pesantren bila dibandingkan dengan Baitullah (Masjid al-Haram)?. Jika ke Masjid al-Haram mereka boleh berkunjung dalam rangka ibadah, maka mereka juga boleh berkunjung ke pondok pesantren dalam rangka silaturrahim kepada para Ulama pemangku pondok pesantren.

Mungkin ada yang bilang “Artis yang datang ini kan tidak hanya sekedar berkunjung. Tapi juga didaulat untuk bernyanyi”?. Apa salahnya menyanyikan lagu yang tidak bermuatan hal-hal yang diharamkan oleh Syara’. Bukankah dalam permasalahan “bernyanyi” seperti itu para Ulama masih berselisih pendapat tentang boleh tidaknya?. Tidakkah anda mengetahui tentang sebuah kaedah hukum Islam; “Sesuatu yang belum disepakati tentang keharamannya tidak boleh diingkari. Sesunguhnya yang diingkari hanyalah sesuatu yang sudah disepakati tentang keharamannya”.

Oleh sebab itu sangat patut kita mengapresiasi dan memberikan penghargaan kepada siapapun yang datang berkunjung ke pondok pesantren, siapapun dia, apapun latar belakangnya, selama tujuannya baik dan menunjukkan sikap yang baik. Siapa tahu sepulangnya dari sana mereka menjadi orang-orang yang baik dan semakin baik.

Redaktur : M. Farid Dimyathi

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas