KH. Muslih Adnan: Banggalah Jadi Santri Syaichona Cholil

KH Muslih Adnan menjelaskan pentinganya sanad keilmuan dan kebanggaan menjadi santri

asscholmedia.net. Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan rayakan acara tahunan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersama seluruh santri. Sabtu malam (25/11/2017).

Lantunan shalawat al-Habsy sebagai pengisi di pra acara juga memeriahkan acara tersebut. Tempat duduk para santri yang didesain dengan rapi sesuai dengan daerahnya masing-masing, hal ini tiada lain hasil kerjasama yang erat dan kekompakan yang kuat antar pengurus keamanan dan pengurus daerah.

Bacaan Lainnya

Dari beberapa rangkaian acara seperti yang telah terkonsep, pada tahun ini yang menjadi muballigh adalah KH. Muslih Adnan dari Pamekasan.

Beliau mengawali ceramah ilmiahnya dengan mengungkap sebuah fenomena yang saat ini lagi booming, parahnya fonomena ini sudah tersebar di beberapa tempat dan sebagian besar sudah masuk pada lingkungan kita. Terdapat sebagian aliran-aliran diluar manhaj (ahlussunnah wal jamaah) yang mengatakan bahwa bulan Rabiul Awal secara tersurat tidak disebut dalam al-Quran dan Hadits Nabi, yang disebut hari senin karena hanya berlandaskan disunnahkan puasa pada hari senin yang mana pada hari itu Nabi Muhammad dilahirkan lalu mengapa kita memuliakan bulan Rabiul Awal?.

Melihat fenomena tersebut KH. Muslih menjawab, “Ulama sudah sepakat bahwa tempat dibumi Allah ini yang mulia adalah tempat yang pernah berkumpul dengan Nabi Muhammad (Mekkah dan Madinah). Mekkah tempat lahir dan perjuangan Nabi selama 13 tahun dan selanjutnya nabi berjuang di Madinah selama 10 tahun. Disebabkan tempat tersebut ditempati oleh insan yang mulia maka tempat tersebut menjadi mulia, juka memang demikian adanya, tentulah bulan Rabiul Awal dimana nabi dilahirkan merupakan salah satu bulan yang mulia

شهر الذي ولد فيه من افضل شهور))”.

Dalam ceramahnya yang luas Beliau juga menyinggung masalah barokah. Ketika seorang santri sudah mendapatkan barokah, sebodoh apapun di pesantren ketika berada di tengah-tengah masyarakat pasti akan berguna. Hal seperti ini merupakan hal yang tidak bisa dirasionalkan.

“Orang yang alim di pesantren dan alim di masyarakat itu berbeda. Alim di pesantren bisa dilihat dari kesehariannya, hafal banyak kitab dan sebagainya. Berbeda ketika di masyarakat tidak cukup hanya dengan hafal kitab tapi harus bisa membantu dan melayani kebutuhan masyarakat. Ingin bisa seperti itu santri harus bisa melakukan apa yang diperintah guru, laksanakan tata tertib pondok pesantren dengan taat dan jangan banyak bertanya karena untuk menjadi orang pintar itu mudah tapi untuk mendapatkan ilmu yang manfaat dan barokah tiada cara lain kecuali dengan Khidmah (mengabdi kepada guru)”. Imbuh KH. Muslih.

Baca pula: Ucapan Ra Nasih yang membuat orang terkejut

Dalam kesempatan ini, beliau juga menjelaskan keharusan bagi seorang santri dalam menuntut ilmu untuk mempunyai sanad agar ilmunya selalu bersambung kepada guru-gurunya, sebagaimana telah di dauhkan Ulama:

“لول الإسناد لقال من شاء ما شاء ”, “seumpama tidak ada sanad sebagai kebutuhan maka manusia itu akan berkata semaunya sendiri”.

Saat ini sudah banyak orang-orang disekitar kita yang sudah tidak mau mondok hingga berguru pada google dan bersanad pada google artinya tidak ada jalur keilmuan yang jelas sehingga ilmunya tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Diakhir ceramahnya beliau berpesan kepada segenap santri agar bangga manjadi santri pondok pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, bagaimana tidak, sebab menurutnya pesantren ini merupakan pusat dari berbagai pesantren di tanah Madura dan Jawa dan banyak sekali dari pesantren-pesantren tersebut yang sanad keilmuannya bersambung pada Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Redaktur: Rofii
Editor: Abdul Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.