Kiai Tandur atau Kiai Catur?

Tidak ada komentar 712 views
banner 160x600
banner 468x60

Oleh: Moh. Ismail al-Ascholy

Tahukah Anda? bahwa Islam disebar dengan dua cara: Dakwah para sholihin dan Siasat dalam kekuasaan. Sejarah mengatakan bahwa penaklukan-penaklukan negara-negara adidaya yang masih kufur itu dilakukan untuk perluasan ajaran Islam, hal itu dilakukan karena Umat Islam merasa punya tanggung jawab bagi seluruh manusia untuk menerapkan dan menetapkan kemaslahatan sejati di muka bumi ini, yang jika itu diterapkan maka yang ada hanyalah kesejukan, kedamaian meliputi seluruh alam, dan ini sudah berulangkali diperhitungkan oleh pakar-pakar dunia. Hal ini terjadi karena Islam tidak hanya membahas  halal haram, tapi ia ingin menebar salam (kesejahteraan) dalam bentuk istislam (tunduk) akan hukum Tuhan Sang Pengatur Alam.

Nah, siapakah mereka? Sayyiduna Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, Muawiyah, Umar bin Abdul Aziz dll. Mereka ini kutub dunia akhirat, ulama sekaligus khalifah. Menteri-menteri mereka semua minimal hafal al-Qur’an sehingga tau mana yang seharusnya dilakukan dengan benar dan mana yang tidak. Seandainya para pemimpin itu; 1. Bukan orang yang berilmu, 2. Bukan orang yang cinta ilmu, atau 3. Setidaknya bukan orang yang cinta orang berilmu, niscaya saat ini kita tidak bisa membaca kitab-kitab ulama terdahulu karena sudah dibakar oleh mereka, seperti yang terjadi di era pembantaian Andalusia yang membuang ribuan kitab ke laut sehingga menjadi laut hitam.

Namun zaman silih berganti, umat terus berkembang dan mulai berubah, kekuasaan-kekuasaan berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, dari Khulafa’ur Rosyidin lalu Daulah Umayyah kemudian Abbasiyah hingga Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Potensi umat berangsur-angsur menurun seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

” خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ” الحديث

Maka sejak digulingkannya Daulah Utsmaniyah pada tahun 1924 M. yang menjadi akhir dari kejayaan Islam, dimulailah era baru, sistem yang dikuasai oleh selain Islam, kaum barat menjadi maju dan Islam mengalami krisis kemunduran. Namun Allah tetap ada bagi orang-orang yang selalu kembali kepada-Nya, Hukum-Nya tetap berjalan bagi yang berusaha menjalankannya. Bahkan Ayat-Nya tetap abadi sepanjang masa, yang berbunyi:

” وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ”

“Dan Kami jadikan dari kalangan mereka pemimpin-pemimpin yang menyebarkan kebenaran dengan izin Kami, dan mereka meyakini Ayat-ayat Kami”

” وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ ”

“Kami ingin menganugerahi orang-orang yang tertindas di muka bumi, dan Kami jadikan mereka pemimpin, dan Kami jadikan mereka pewaris”

Bagaimana maksud dari ayat tersebut? Di masa Nabi Musa, Bani Israel diintimidasi habis-habisan oleh Fir’aun. Mereka lemah tak berdaya, mereka ditindas, tapi hanya satu yang tetap di hati mereka yaitu “sabar”. Dari situlah awal mula Allah menampakkan Nabi Musa sebagai pemimpin, dan setelah beliau banyak lagi pemimpin-pemimpin yang mewarisi karakter Nabi Musa. Ciri mereka bukan hanya sebagai pemimpin, tapi pemimpin yang “yahduuna”, menunjukkan kebenaran dari Allah terhadap yang lain.

Ibrah ayat tersebut untuk masa sekarang adalah: saat rakyat (termasuk calon pemimpin yang akan Allah angkat) mengalami krisis ekonomi, krisis moral, tertindas oleh sistem dan pemerintah yang dzolim, lalu mereka tetap sabar, tidak ikut menciptakan hukum sewenang-wenang, mulut tak mengumbar keburukan, tidak jahat, tetap taat dengan perintah-perintah Allah, ikut arah takdir-Nya, maka Dia akan mengangkat bagi mereka bukan hanya sekedar pemimpin, tapi pemimpin yang bisa menyebarkan hidayah kepada rakyatnya. Bani Israel saja setiap membangkang lalu taubat dan kembali kepada Allah, kemudian Allah menerimanya dan memperbaiki lagi hal-hal sosialitas mereka. Maka, apalagi dengan Umat Muhammad yang seharusnya lebih semangat untuk kembali kepada Allah walau nakal dikit-dikit atau dikit-dikit nakal. Dia pasti sudah menyiapkan siapa diantara mereka pemimpin yang “yahduun” tersebut.

Lalu bagaimana tentang perebutan kursi kekuasaan? Bagaimana dengan politik kelam hari ini?

Jika tokoh politik yang bukan ulama dan bukan termasuk 3 karakter yang disebut diatas melakukan hal tersebut sampai seakan-akan “hidup mati” ingin berkuasa, maka ulama yang lebih tahu tentang agama takkan separah itu. Dan cara menduduki kursi kepemimpinan memang harus mengikuti sistem yang ada, maka ini yang dinamakan darurat seperti dalam “Ahkam Sultoniyah”nya Imam Mawardi dan kitab-kitab lain yang menerangkan tentang kepemimpinan.

Tapi, jika rakyat dan penguasa sama-sama dzolim, tidak menerapkan semua hal yang ada dalam lingkup “sabar” tadi, maka ingatlah ancaman Allah:

” وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”

“Begitulah Kami berikan kekuasaan kepada orang dzolim untuk menindas orang-orang yang juga dzolim sebab dosa yang mereka selalu perbuat”

” وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا ”

“Dan jika Kami ingin menghancurkan sebuah kota, Kami suruh orang-orang berpengaruh di kota itu berkuasa, lalu mereka berbuat fasik, maka jadilah apa yang terjadi (yaitu uqubah), lalu Kami ombang ambingkan kota tersebut sehancur-hancurnya.”

Jadi, memperbaiki kehidupan masyarakat tidak hanya bergantung terhadap penguasa, rakyat juga ikut andil disitu. Penguasa adalah penyeimbang suatu kemasyarakatan agar mereka berada dalam sebuah tatanan yang terkondisikan, dan masyarakatlah pemeran utamanya. Itulah sebabnya ada “dakwah para sholihin” seperti yang disebut di awal, yaitu ulama akhirat yang lain, yang senantiasa mengajak rakyat maupun penguasa kembali ke jalan Allah. Ulama inilah yang disebut kiai tandur, menanam benih-benih Islam di kalangan bawah,  seperti halnya ulama politik yang disebut kiai catur, ikut berkiprah menstabilkan  kalangan atas. Jika kedua ulama ini bersatu, saling berkordinasi, saling mengingatkan akan agama, dan masyarakat patuh kepada mereka, maka inilah bibit-bibit kejayaan Islam yang akan tumbuh dan berkembang hingga saat Al- Mahdi muncul nanti. Jika ini dijaga dan dilaksanakan dengan benar oleh masyarakat dan para pemimpinnya maka akan terciptalah kemakmuran dalam sisi ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan seperti dalam Ayat:

” وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ”

“Kalau saja masyarakat sebuah kota percaya dan bertakwa, pasti Kami bukakan berkah-berkah dari langit dan bumi untuk mereka, tapi sayangnya mereka mendustakan apa yang telah Kami sampaikan, maka Kami sengsarakan mereka sebab pelanggaran yang mereka perbuat”.

Jadi pilih mana, Bertakwa lalu makmur atau berdusta lalu hancur?

 

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik