SEHARUSNYA ULAMA YANG MEMIMPIN NEGERI INI?

Tidak ada komentar 675 views
banner 160x600
banner 468x60

Keberadaan seorang pemimpin dalam suatu komunitas merupakan suatu yang niscaya. Keberadaan seorang pemimpin dalam suatu negara tidak hanya menunjukkan kemajuan peradaban suatu bangsa yang hidup dalam negara tersebut, tetapi juga merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perjalanan negara tersebut apakah akan menjadi negara yang baik yang masyarakatnya senantiasa memperoleh ampunan Allah (Baldatun Thoyyibatun we Robbun Ghafur) ataukah sebaliknya, yakni menjadi negara yang penduduknya mendapat murka Allah dengan musibah dan bencana yang silih berganti.

Syari’ah Islam yang dibawa oleh Rosulullah saw merupakan syari’ah terakhir yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia. Syariah yang dibawa oleh Rosulullah saw ini mengatur semua aspek kehidupan manusia, baik hubungannya dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan atau alam semesta. Mengatur manusia sebagai pribadi maupun sebagai makhluk sosial termasuk bagaimana manusia mengatur sebuah negara.

Sebagai salah bukti bahwa agama Islam juga mengatur kehidupan dalam suatu negara (terutama yangnpenduduknya mayoritas muslim seperti negara kita ini), adalah bahwa Allah (dalam alQur’an) dan Rosulullah (dalam al-Hadits) mengingatkan kita betapa urgennya keberadaan seorang pemimpin muslim terhadap kehidupan kita sebagai muslim dan eksistensi agama kita sebagai agama satu-satunya yang diridloi Allah. Sehingga Allah melarang kita memilih orang kafir sebagai pemimpin, Seperti firman Allah dalam al-Qur’an Surah al-Maidah 51 yang artinya ” wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian ambil orang-orang Nasrani dan Yahudi sebagai pemimpin..”. Sebab keberadaan seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap rakyatnya dan berpengaruh terhadap keberlangsungan agama Allah (Islam). Karena jika pemimpin negeri ini buruk maka ajaran agama Islam di negeri ini tidak akan bisa berkembang.

Pemimpin yang buruk merupakan salah satu penyakit yang dapat menggerogoti agama kita sebagaimana sabda Nabi “Penyakit (yang dapat merusak) agama ada tiga : seorang fakar hukum (faqih) yang hanyut dalam kemaksiatan, seorang pemimpin yang bertindak sewenang-wenang dan seorang yang bersungguh-sungguh yang bodoh”.HR. Ad-Dailami dari Ibnu Abbas ra.

Mengapa Harus Ulama’?

seorang pemimpin yang ideal harus memenuhi 4 kriteria pokok;
1. Seorang manusia (insan)
2. Memiliki kecerdasan intelektual(ilmu)
3. Memiliki kecakapan(dobth)
4. Memiliki kepribadian yang baik (takwa).
5. Memiliki kecerdasan spiritual (punya hubungan baik dengan Allah).

Oleh karena itulah, sosok yang paling tepat menurut saya untuk menjadi pemimpin di setiap negeri apalagi negeri kita ini yang dimana-mana terjadi korupsi,penindasan dan ketidak adilan adalah seorang ulama. Sebab hanya para ulama yang memenuhi semua kriteria di atas. Bukankah di negeri mayoritas muslim ini memiliki banyak ulama?. Satu atau dua orang ulama yang menjadi pemimpin di negeri ini tidak akan menyebabkan masyarakat muslim kehilangan tempat bertanya masalah hukum agama dan berkonsultasi tentang problem kehidupan mereka.

Untuk syarat pertama, seorang Ulama sudah memenuhi unsur kelayakan sebagai calon pemimpin di negeri ini, baik sebagai presiden, gubernur,bupati dan jabatan pemerintahan di bawahnya. Sebab Ulama juga manusia. Dan memang hanya seorang manusia yang layak dan pantas menjadi pemimpin atau pengelola bumi ini ((dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman pada para malaikat “sesungguhnya Aku (akan) menjadikan di atas bumi seorang kholifah)). QS. Al-Baqoroh :30
Oleh karenanya malaikat tidak bisa menjadi pemimpin di muka bumi walaupun (umpamanya) ia sudah memiliki 3 syarat yang lain. Begitu pula bangsa jin dan binatang. Hak bangsa jin untuk menjadi kholifah atau pemimpin di muka bumi telah digantikan oleh bangsa manusia. Sedangkan bangsa binatang sama sekali tidak pernah dipilih oleh Allah untuk menjadi pengurus bumi apalagi sebagai pemimpin. Sebab bangsa binatang hanya dibekali nafsu, tidak akal. Apa jadinya jika kemudian bangsa binatang yang menjadi pemimpin?. Tentu tak bisa kita bayangkan.

Yang kedua; seorang ulama adalah orang-orang yang tentunya memiliki akal yang cerdas dan daya intelektual yang mumpuni. Tak mungkin ia bergelar ulama jika kemampuan akal dan daya intelektualnya rendah. Oleh sebab itu, dengan kemampuan intelektual yang tinggi ia akan mampu berpikir bagaimana mengatur pemerintahan secara baik dan menyusun rencana-rencana besar untuk kepentingan dan kemashlahatan rakyaknya (tindakan seorang pemimpin haruslah terikat dengan terwujudnya sebuah kemashlahatan)).

Yang ketiga; memang benar mungkin saja ada ulama yang belum atau tidak memiliki kecakapan untuk memimpin dalam sebuah sistem pemerintahan .Tapi bukan berarti tidak bisa. Kecakapan untuk menjalankan pemerintahan bisa dipelajari. Asal ada kemauan pasti ada jalan. Bagi seorang ulama yang punya kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, maka tentu ia boleh dan layak masuk dalam sebuah sistem pemerintahan. Bahkan mungkin bagi dirinya masuk ke dalam sistem pemerintahan itu lebih baik dari pada tetap sebagai masyarakat biasa. Sebab dengan begitu barangkali ia akan lebih memberikan manfaat untuk masyarakat bahkan untuk seluruh rakyatnya. Karena ia memiliki peluang besar untuk menggunakan kekuasaannya sebagai media dakwah, sebagai sarana untuk mempertahankan dan melaksanakan aturan-aturan agama Allah ini. Sehingga masyarakatnya menjadi masyarakat yang baik yang menjadi penyebab turunnya keberkahan kehidupan mereka ((.

Syarat keempat; seorang ulama pasti memiliki akhlak dan perilaku yang baik yang sudah melekat kuat menjadi kepribadiannya. Sehingga dengannya (secara dohir) ia tidak akan melakukan tindakan atau perilaku yang menyimpang seperti korupsi uang rakyat atau uang negara, penindasan terhadap rakyat dan perilaku maksiat yang lain. Karena dalam hatinya telah tertanam kuat rasa takut (takwa) kepada Allah SWT. (Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya hanyalah para ulama!”).

Yang Kelima : dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki maka seorang ulama’ setiap saat akan selalu ingat kepada Allah. Dan setiap kali melaksanakan urusannya tidak lupa berdoa memohon pertolongan Allah, sehingga ia akan mampu menjalankan amanah kepemimpinan yang sedang ia emban dan ia akan mampu menyelesaikan setiap masalah yang sedang dihadapi.

Lalu adakah larangan bagi seorang ulama untuk menjadi pemimpin di suatu negara?. Untuk menjawab pertanyaan ini sangatlah mudah yaitu tidak ada. Yang ada adalah larangan untuk datang ke istana raja tanpa alasan yang dibenarkan seperti datang hanya sekedar ingin berkunjung. Tapi jika memang ada alasan yang dibenarkan seperti untuk mengingatkan seorang pemimpin yang telah salah dalam bertindak maka hal itu tidak akan menghancurkan kredibilitasnya sebagai seorang ulama karena memang itulah salah satu tugas ulama.

Adakah contoh ulama yang menjadi pemimpin sebuah negara?.Tentu ada, seperti Khulafa ar-Rosyidun dan Umar ibn Abd al’aziz. Bahkan Umar ibn al-Khattab, Ali ibn Abi Tholib termasuk orang-orang yang sudah memiliki kapasitas dan wewenang untuk memberikan fatwa hukum dari kalangan sahabat (almuftuuna min as-shohabah). Demikian pula Umar ibn Abd Aziz yang mampu menaklukkan hati kelompok Khowarij yang menjadi penentang para pemimpin sebelumnya sesudah berhasil mengalahkan pemimpin mereka dalam medan debat ilmiah. Sehingga pada masa kepemimpinan beliau itulah mereka menghentikan pemberontakannya, sehingga negeri ini menjadi tenang dan penuh ketentraman.

Walaupun demikian, adanya pemimpin yang berkwalitas bukanlah jaminan negeri yang dipimpinnya akan menjadi negeri yang diidam-idamkan oleh kita semua kalau rakyat yang dipimpinnya bukanlah rakyat yang baik. Bukanlah rakyat yang sikap dan prilakunya tidak didasari keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Sebuah negeri akan menjadi negeri yang dipenuhi oleh keberkahan jika penduduknya pyakni pemimpin dan rakyatnya beriman dan bertakwa kepada Allah SWT ((” Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami (Allah) limpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami azab mereka sebab apa yang telah mereka perbuat”. QS. al-A’raf :96)).

Redaksi: Farid Tumyadi

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas