Robi’ul Azhar; Bulan Maulid Yang Mekar Berbunga

banner 160x600
banner 468x60

Oleh: Muhammad Ismail al-Ascholy

Segala Puji bagi Allah Maha Qodim Maha Awal, Maha Adzim Maha Unggul tiada zawal, Yang telah menciptakan sebelum segalanya, cahaya NabiNya, lalu Dia sempurnakan dan jadilah ia sempurna. Dari situ, nampaklah seluruh yang ada, tampaklah bumi, langit dan seisinya, alam nyata yang tak ada lebih indah, lebih megah, lebih gagah setelahnya.

Sampai pada saatnya Allah memunculkan cahaya itu, cahaya sang junjungan, di bulan yang penuh kesenangan pula kemenangan, yang jelas bagi mata yang memandang dan hati yang berangan-angan. Itulah bulan yang spesial, bulan Robi’ul Awal.

Sholawat dan salam dari Allah atas ciptaanNya yang terunggul, Sayyidina Muhammad sebaik-baik nabi sebaik-baik rosul, dan para ahlul bait serta para sahabatnya, sepanjang wujud hamba bersujud pada Tuhannya dalam ibadah, selama ia tunduk dalam Kehendak RidloNya lalu ia berserah pasrah.

Amma Ba’du, bulan Robi’ul Awal adalah bulan dengan berkah yang menyebar, disitu semburat cahaya memancar ke penjuru dunia seakan sinarnya susul-menyusul dan sambar-menyambar.

Bulan Robi’ul Awal telah tiba kepada kita layaknya pertamuan, maka sepantasnya bagi kita menyambut kedatangannya serta menyuguhinya dengan sebaik-baik penjamuan. Kita siap sediakan itu dengan meluapkan rasa yang sudah kita tahan dari tahun kemarin, rindu yang kita pendam dan bahagia dengan kehadirannya, karena kita tahu bahwa dengan hadirnya bulan mulia ini hadir pula-lah hari kelahiran Rosululloh Saw. yang merupakan Rahmat sebagaimana Allah tuturkan dalam Surat Anbiya’ 107:

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ)

Nah, kalau Rasulullah itu merupakan rahmat, bahkan rahmat adalah beliau sendiri, maka berarti kelahirannya adalah rahmat pertama yang dikhususkan untuk Umat ini. Dan hak yang sepantasnya diberlakukan untuk rahmat -seperti yang disebutkan oleh Allah Swt.- adalah :

(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا) الاية

“Katakan (duhai kekasihKu): dengan Anugrah Allah dan Rahmatnya, dengan itulah hendaknya mereka berbahagia” Qs. Yunus 58

Kenapa dan dengan apa kita menyambut bulan ini? Ketahuilah bahwa yang saya sebutkan barusan adalah penjelasan secara keseluruhan dari keterangan yang akan saya perinci sebagai berikut: (wa billahi-t taufiq).

Mengagungkan bulan Robi’ul Awal itu bukan karena bulan itu sendiri, tapi karena sesuatu yang ada disitu, bulan lahirnya Nabi Muhammad, yang mengangkat bulan itu ke pangkat yang diluhurkan. Jadi keutamaan bulan tersebut sebab keutamaan sesuatu yang ada disitu. kalau saja maulid nabi tidak ditetapkan di bulan ini, ya Robi’ul Awal tidak mempunyai kebanggaan apa-apa terhadap bulan-bulan yang lain. Bayangkan saja, Ramadhan dengan Lailatul Qodr-nya, Muharram dengan Asyura-nya, Asyhurul Hurum lainnya dengan kebanggaan-kebanggaan tersendiri di hari-hari tertentu. Jadi Allah mengkhususkan bulan ini, bahkan mewujudkan bulan ini hanya untuk menghormati Rasulullah dan Maulidnya, khusus itu saja. Seakan-akan Allah menghendaki seperti itu agar tidak ada kegiatan lain yang diperhatikan atau dipentingkan dalam bulan ini selain Maulid, dan supaya agungnya Rasulullah tidak dikarenakan agungnya bulan ini, tapi agungnya bulan ini sebab agungnya Rasulullah Saw. Dan sejarah membuktikan bahwa bulan ini bagaikan kasat mata di kalangan arab sebelum lahirnya beliau.

Sekilas pengagungan bulan maulid tersebut bagai ucapan Qays dalam syairnya:

أَمُرُّ عَلَى الدَّيَّارِ دَيَّارُ لَيْلَى # أُقَبِّلُ ذَا الْجِدَارَ وَذَا الْجِدَارَا

وَلَا حُبُّ الدَّيَّارِ شَغَفْنَ قَلْبِي # وَلَكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدَّيَّارَا

 “Aku melewati sebuah rumah, rumahnya Layla, kuciumi dinding demi dindingnya.
Bukanlah cintakan rumah hatiku membara, namun cintakan Layla yang mendiaminya”

Pada Maulid (kelahiran) Rasulillah Saw. banyak hal aneh nan ajib yang terjadi. Ada runtuhnya berhala-berhala, jatuhnya tahta Kaisar Persia, padamnya api sesembahan di Persia yang tak pernah padam selama ribuan tahun, dan lain-lain. Tapi sayang sekali, jika itu semua tidak menyisakan bekas apapun, tidak hanya di otak kita saja tapi mendalam ke lubuk hati karena Allah yang mengatur dan mengkhususkan NabiNya dengan hal-hal aneh tersebut yg biasa disebut dengan “Irhaash”.

Pertanyaannya: apa tujuannya?. Dan ternyata ada satu jawaban yang membuat lapang di dada, yaitu: Allah sengaja menentukan hal-hal tersebut di hari maulidnya, sebagai simbol terbitnya cahaya yang benderang di musim semi. Robi’ul Awal itu menggantikan kobaran api syirik dan keraguan yang akhirnya dipadamkan. Dengan kata lain, Allah menginginkan “perubahan”, sebab hal-hal ini tidak pernah terjadi sejak tahun-tahun sebelumnya, maka Allah menghendaki “perubahan suasana” ini bertepatan dengan hari lahir utusan terbaikNya. Berhala yang asalnya tegak berdiri, di hari itu runtuh. Api sesembahan yang diklaim kekal, di hari itu padam. Dan seterusnya.

Begitu juga, Allah menyisihkan perubahan besar ini untuk Ruh kita, karena patung keangkuhan, gejolak api kecongkakan, dan tahta kesombongan yang selama ini selalu berkibar, selalu berkobar, selalu digelar di alam kepribadian kita hendaknya dihancur-leburkan dengan perubahan pada jiwa kita tepat hadirnya bulan berkah dan maulid nabi ini, sebagaimana ia telah merubah suasana di masa lalu tersebut.

Kalau sudah menetap dan menancap di hati kita sehingga menjadi mantap, maka kita akan menemukan dalam maulid Nabi sesuatu yang belum kita temukan sebelumnya, bahkan saat kita membaca siroh nabawiyah, hadits-hadits perangainya, kita merasakan, kita mencicipi sesuatu yang sebelumnya tak pernah dirasa oleh hati. Ini terjadi karena Allah menjajikan dalam Al-Qur’an bahwasanya:

( قُلْ إنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ ) الأية

 “Katakan (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, ikuti aku, kalian pasti dicintai oleh Allah”

Bukankah itu yang dimaksud dalam Hadits: “Siapa yang menghidupkan sunnahku, berarti dia mencintaiku. Dan siapa yang mencintaiku, dia bersamaku di surga”. Jadi bagaimana mungkin kita kuat dan kuasa mengikuti jejak langkah Sang Kekasih ini tanpa mengetahui siapa beliau, bagaimana sejarahnya, akhlaknya, serta perangainya? Dan apabila kita mengikuti, maka Cinta Allah kita dapati.

Intinya, Ulama kita berkata: “itu tidak akan terjadi jika pancaran cahaya Muhammad tidak ada dalam hati kita”. Kalau begitu, berarti ini hal yang wajib kita perhatikan -bersama bahagia yang sangat- dalam menyambut tibanya hari lahir Baginda Muhammad Shollallohu Alaihi wa Sallam.

Sebab, bulan ini, Maulid ini bagaikan tamu, wajib bagi kita untuk menjamunya, sampai saat kita sempurna dalam melayaninya, dan tiba saatnya sang tamu kembali ke rumahnya di langit, maka seakan-akan dia mengadu kepada Allah: “wahai Robb, hambaMu ini sudah memuliakanku, maka muliakanlah dia”

مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ وَالْفَرِيْقَيْنِ مِنْ عَرَبٍ وَمِنْ عَجَمِ

هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِي تُرْجَى شَفَاعَتُهُ لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحِمِ

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ

وَلَنْ يَضِيْقَ رَسُوْلَ اللهِ جَاهُكَ بِي إِذَا الْكَرِيْمُ تَجَلَّى بِاسْمِ مُنْتَقِمِ

يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

 السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَلْبِي فِدَاكَ

نَبِيَّ الْهُدَى لَا تَنْسَنِي مِنْ شَفَاعَةٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik