Multikulturalisme Sebagai Bingkai Kemajuan Peradaban*

banner 160x600
banner 468x60

Oleh: Ahmad Sukron, S.Pd. M.IP**

Multikulturalism
substansi multikulturalism adalah kebudayaan. Secara estimologi, multikulturalisme berasal dari kata multi kultur (banyak budaya) dan Isme (aliran/paham). Pada hakekatnya, multiculturalism mengandung makna pengakuan terhadap martabat manusia yang hidup dalam lingkungan social dengan keanekaragaman budaya yang unik.

Menurut Azyumardi Azra, (2007) Multikulturalism dapat juga dipahamni sebagai paradigma dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (“politics ofrecognition”). Dengan demikian Multikulturalism dapat didefinisikan sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan paradigma seseorang atau masyarakat tentang keaneragaman kehidupan berbangsa dan bernegara yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keberagaman berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat terkait dengan nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.

Perkembangan Mulkuturalism
Sesuai dengan perkembangan zaman multikulturalism terlihat menjadi sebuah bentuk yang terklasifikasi menjadi (a), sebuah kebutuhan terkait dengan tuntutan pentingnya pengakuan di dalam kehidupan bermasyarakat (the need of recognition), munculnya sebuah pengakuan atas perbedaan kehidupan bermasyarakat merupakan tonggak dari sebuah perdamaian kehidupan berbangsa dan bernegara, karena hilangnya pengakuan terhadap perbedaan yang merupakan sebuah keniscayaan dapat memunculkan benih-benih ketimpangan yang akan berakibat pada konflik berkepanjangan. (b), hak untuk berbeda (the right to difference). Perbedaan merupakkan hak yang dimilki oleh setiap masyarakat, karena terjadinya perbedaan tidak hanya disebabkan adanya kepentingan untuk mencapai tujuan, namun perbedaan juga munculnya dengan sendirinya yang dilatarbelakangi pola kehidupan masyarakat. Namun meskipun demikian, perbedaan bukan diartikan sebagai titik awal munculnya sebuah gesekan yang akan menyebabkan terjadinya konflik atau permusuhan, akan tetapi justru perbedaan dapat dijadikan sebagai perekat untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis. Sebagaimana dikatakan oleh Tilaar, H. A. R, (2005), bahwa Multikulturalisme yang terjadi dalam kehidupan masyraklat merupakan cara hidup (life style) dari bangsa-bangsa di dunia ini, yang tentunya di dalam mewujudkan suatu masyarakat multikultural diperlukan upaya-upaya yang terus menerus.

Multikulturalism di Indonesia
Menurut Mr. M. Yamin berdirinya bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Sebagaimana yang termaktub dalam Sekretariat Negara RI. ( 1995:11), Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dalam tiga tahap. pertama, zaman Sriwijaya dibawah kekuasaan wangsa Syailendra, yang bercirikan kedatuan. Kedua, Negara kebangsaan Majapahit yang bercirikan keprabuan. Bentuk tahapan berdirinya Negara yang pertama dan kedua tersebut merupakan Negara kebangsaan Indonesia lama. Dan yang ketiga, Negara kebangsaan modern yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (17 agustus 1945 sampai sekarang). Hal ini menunjukkan bahwa terbentuknya Negara Indonesia membutuhkan fase yang sangat panjang dalam proses historis, sehingga terbentuk suatu ikatan batin untuk memilih cara pandang kehidupan berbangsa dan bernegara kesatuan republic Indonesia yang diikat oleh keanekaragaman goegrafis, cultural, etnis gama dan sudut pandang.

Sejatinya multikulturalisme kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara republik Indonesia sudah termaktub dalam konstitusi Negara republik Indonesia, yaitu Undang-undang Dasar Tahun 1945 pasal 36 A yang menyebutkan bahwa Lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. dengan demikian symbol tersebut merupakan dasar yuridis formal bangsa Indonesia bahwa kebhinnekaan sudah final menjadi identitas nasional bangsa Indonesia.

Multikulturalisme Zaman Now
Multikulturalisme dan perkembangannya merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Salahsatu Perkembangan technologi yang semakin canggih seolah menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menciptkan Multikulturalism sebagai bingkai peradaban. Sebagaimana dikatakan  Albert Einstein, I Fear the day that technology will surpass our human interaction. The world will have a generation of idiots  (Aku takut suatu hari teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi idiot).

Melihat berbagai fenomena yang terjadi di Zaman Now Apa yang dikatakan Albert Einstein solah menjadi kenyataan. Para penikmat Zaman Now seolah-olah menjadi generasi idiot yang sesungguhnya, hal ini terindikasi bahwa pola komunikasi langsung tatap mukapun terasa asing, karena komunikator cendrung asik dengan gadgetnya masing-masing dan bahkan munculnya isu2 yang berbau sara di Zaman Now cendrung viral melalui media social. Hal itu akan terasa semakin aneh ketika viralnya berbagai jenis isu yang berkembang, hususnya  yang berkaitan dengan sara sudah tidak mengenal golongan usia (semua lapisan masyarakat pengguna gatget), karena hampir semua kalangan masyarakat sudah terjangkit virus perkembangan tecknologi, sehingga penikmat Zaman Now  yang waras (tidak idiot) mengalami kesulitan membedakan mana yang hox dan mana tidak hoax.

Munculnya Berbagai masalah yang berkaitan dengan multiculturalism di Zaman Now, disebabkan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab untuk menganalisa munculnya masalah yang menjadi tantangan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa dalam bingkai multikulturalisme sebagai wujud peradaban. Perlu mengkalisifikasi sudut pandang keberadaan multiculturalism sebagai berikut: Pertama, pandangan kelompok primordialism. kelompok primordialism menganggap perbedaan kultur, agama, ras dan adat istiadat merupakan benih-benih munculnya gesekan masyarakat yang akan berakibat konflik berkepanjangan, sehingga apabila menghendaki adanya penyeragaman kemajemukan tentu akan berakibat pada runtuhnya keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Kedua, sudut pandang kelompok instrumentalis. Menurut mereka perbedaan suku, agama dan adat istidat merupakan identitas yang dimiliki oleh individu-individu atau kelompok tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan, baik bersifat materil maupun non materil. Biasanya hal ini dilakukan oleh oknum Elit atau oknum Politisi untuk mendapatkan kekuasaan, menjalankan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaannya. Karena bagi mereka pemanfaatan multiculturalism seolah menjadi lahan empuk untuk menopang kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, pandangan kelompok konstruktivis. Menurut sudut pandang kelompok konstruktivis terkait multikulturalism sangat berbeda dangan kelompok primordialism dan instrumentalis, karena perbedaan bagi kelompok konstruktivis merupakan sebuah berkah, anugrah atau nikmat yang dapat diolah menjadi jaringan social untuk merekatkan kebersamaan dalam bingkai multiculturalism berbangsa dan bernegara.

Oleh sebab itu untuk menjadikan Multikulturalisme sebagai bingkai kemajuan peradaban, penting bagi semua elemen bangsa Indonesia, termasuk pemerintah untuk giat melakukan edukasi pemahaman, penghayatan dan pengamalan tentang multiculturalism dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan terciptanya multiculturalism sebagai bingkai kemajuan peradaban maka akan semakin mengokohkan nilai-nilai kebhinnekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

* artikel ini disampaikan dalam forum diskusi umum yang diselenggarakan KOMUNITAS PANCASILA
** Penulis adalah Alumni Ponpes Syaichona Moh. Cholil yang saat ini menjadi Praktisi Perdamaian serta Peneliti The Innetiative Institute

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik