JANGAN KITA TINGGALKAN BERJAMAAH!

Tidak ada komentar 498 views
banner 160x600
banner 468x60

Sesama muslim telah Allah ikat satu sama lain dengan tali persaudaraan ((“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain”, al-Hadits)). Supaya ikatan persaudaraan diantara hamba-Nya yang muslim tetap berlangsung dan semakin kuat, maka Allah berlakukan ibadah khusus yang bernama shalat Sholat Berjamaah terutama di masjid-masjid.

Tujuannya selain untuk mensyiarkan ajaran agama Islam yang merupakan satu-satunya agama yang Allah ridloi, juga untuk mewujudkan terjalinnya kesatuan hati diantara orang-orang mukmin, sehingga mewujudkan kerukunan dan rasa berbagi satu sama lain. Juga terikatnya kesatuan doa “Tunjukkanlah kami ke jalan yang benar”, yang terkandung dalam surah Al-Fatihah yang dibaca oleh imam, yang kemudian diikuti dengan kalimat “âmîn” oleh seluruh jamaah, do’a dalam Fatihah menjadi terkabul. Bukankah “petunjuk Allah” yang selalu kita butuhkan untuk menjadi penuntun perjalanan kita menggapai ridlo Allah?.

Dengan berjamaah maka shalat lima waktu kita “dijamin” akan diterima oleh Allah SWT. Karena ketika kita melakukan shalat fardlu berjamaah, maka Allah pilih salah satu diantaranya sebagai “wali” (kekasih)-Nya yang dengannya Allah menerima shalat orang-orang yang shalat berjamaah bersamanya. Seperti yang dinyatakan oleh para Ulama; “Tidaklah berkumpul satu jamaah melainkan diantara mereka terdapat seorang “wali” yang Allah terima permintaan syafaatnya untuk teman-teman rombongannya”.

Dalam satu riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, “Bahwa ada seorang laki-laki buta datang sowan pada Rasulullah saw; “Wahai Rasulullah! Saya tidak memiliki seseorang yang bisa menuntun saya ke masjid. Apakah saya berhak mendapatkan keringanan untuk melaksanakan shalat (fardlu) di rumah?. Maka Rasulullah SAW memberikan kemurahan pada saya”. Tetapi ketika laki-laki tersebut berpaling untuk pulang, Rasulullah memanggilnya: “Apakah engkau mendengar suara panggilan adzan agar menunaikan shalat?. “Ya” , jawab laki-laki buta tadi. “Kalo begitu, penuhilah panggilan adzan itu”.

Bahkan para ulama salaf menganggap terlewatnya shalat berjamaah dari mereka sebagai suatu musibah. Seperti yang pernah dialami oleh sebagian ulama salaf yang sedang pergi ke sebuah kebun kurma. Ketika ia pulang kembali ke kampungnya ia dapatkan ternyata orang-orang disana sudah selesai melaksanakan shalat Ashar. Mengetahui itu, ia lalu berucap: “Innâ lillâhi, sungguh telah lewat shalat berjamaah dariku. Aku angkat kalian sebagai saksi atas diriku, bahwa kebun kurmaku ini telah aku sedekahkan untuk orang-orang miskin”.

Demikian pula yang pernah terjadi pada Abdullah ibn Umar ra. Yang mana pada saat itu beliau tidak mengikuti shalat Isya’ berjamaah. Lalu pada malam itu pula beliau kerjakan shalat Isya’ sendirian sampai terbit fajar untuk menutup shalat Isya’ berjamaah yang telah beliau lewatkan.

Diriwayatkan dari Ubaidillah bin Umar al-Qawariry ra, beliau menyatakan; “Sebelumnya aku tidak pernah melewatkan shalat berjamaah. Lalu mampirlah ke rumahku seorang tamu yang membuatku sibuk sehingga aku tidak ikut shalat berjamaah di masjid. Lalu aku keluar untuk mencari masjid agar aku bisa shalat berjamaah bersama orang-orang disana. Tetapi ternyata orang-orang yang menjadi keluarga masjid-masjid itu seluruhnya telah melaksanakan shalat berjamaah dan semua masjid tersebut telah dikunci. Akhirnya aku kembali pulang ke rumah dalam keadaan sedih karena tertinggal shalat berjamaah. Lalu aku katakan: Bukankah telah datang dari Nabi sebuah hadits yang mengatakan “Sesungguhnya shalat berjamaah melebihi shalat sendirian 27 derajat”. Kemudian aku mengerjakan shalat Isya’ sendirian 27 kali. Kemudian beranjak tidur. Maka dalam tidurku aku bermimpi diriku sedang menunggang seekor kuda bersama sekelompok orang yang juga menunggang kuda di depanku. Dan aku berusaha mempercepat lari kudaku di belakang mereka, tetapi tetap aku tak mampu menyusul mereka. Menolehlah kepadaku salah satu dari mereka seraya berkata, “Kamu hanya memayahkan kudamu. Tetap saja kamu takkan bisa menyusul kami”. “Mengapa wahai saudaraku?, kataku. “Sebab kami mengerjakan shalat Isya’ berjamaah sedangkan engkau shalat sendirian”, jawabnya. Lalu aku terjaga dalam keadaan sedih.

Mungkin kita sudah berencana mengikuti shalat wajib berjamaah di masjid, tetapi ketika datang waktu shalat, kita sedang tertidur atau lupa akan niat yang telah diucapkan dan tanamkan dalam hati sehingga lagi-lagi tertinggal jamaah. Mengapa?. Barangkali karena kita baru saja telah berbuat dosa yang mungkin tidak kita sadari, sebagaimana pernyataan sebagian Ulama Salaf, “Tidaklah seseorang melewatkan shalat berjamaah kecuali pasti disebabkan dosa yang telah menimpanya”. Semoga Allah jadikan kita mampu senantiasa melaksanakan shalat berjamaah. Âmîn.

Redaktur: M. Farid Dimyathi
Editor: Ahmad Hafsin

author
Sebagai Admin Asschol Media kami selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kerja keras dan profesionalisme tinggi kami berharap informasi yang kami sajikan bisa bermanfaat pada masyarakat luas