KIAT JITU DARI PARA PENDAHULU

2 comments 404 views
banner 160x600
banner 468x60

KIAT JITU DARI PARA PENDAHULU

Mempunyai suatu keinginan atau target yang ingin dicapai itu merupakan sesuatu yang lumrah bagi kita semua, hampir semua orang mempunyai suatu target yang ingin mereka capai, baik yang bersifat duniawi ataupun ukhrowi, meskipun target dari masing-masing orang itu berbeda-beda, ada yang punya target untuk mempunyai mobil, ada yang targetnya bisa membangun sebuah rumah, ada yang ingin punya banyak uang, kaya raya, ada yang targetnya menjadi orang yang berilmu, ada yang ingin menjadi seorang yang ‘arif billah, dan lain sebagainya. Selain itu cara mereka dalam berusaha untuk mencapai target-target tersebut juga berbeda-beda antara satu dengan yang lain, ada yang berusaha dengan bersusah payah penuh rintangan sampai jungkir balik pontang panting kesana kemari namun targetnya tak kunjung tercapai juga, ada juga yang susah payahnya yang teramat sangat itu membuahkan hasil yang memuaskan (targetnya tercapai), tapi ada juga yang dalam mengejar targetnya dia lakukan dengan santainya namun hasilnya luar biasa. Semua targetnya bisa dia capai dengan sempurna bahkan lebih, juga ada dari mereka yang berusaha dengan santai tapi hasilnya juga nol.

Sebenarnya dalam masalah ini ada suatu cara untuk mengejar sebuah target (duniawi/ukhrowi) yang direkomendasikan oleh para pendahulu kita yakni Ulama’ as-salaf as-sholih. Mereka mengatakan “suatu target yang dalam pencapaiannya mengandalkan Allah itu akan mudah dicapai, sementara suatu target yang berusaha kita kejar dengan mengandalkan diri kita sendiri itu akan sulit sekali tercapai”, dan mereka juga berkata kalau ini adalah sesuatu yang benar-benar telah teruji hasilnya baik dikalangan orang awam ataupun orang-orang khusus. Maka, jika kita ingin gampang dalam mendapatkan suatu target yang kita inginkan, maka kita harus mengandalkan Allah dalam usaha kita, bukannya mengandalkan diri sendiri.

Coba kita lihat praktek yang banyak terjadi, kebanyakan orang yang mau mengerjakan suatu usaha itu adalah mereka-mereka yang memiliki modal dan kemampuan, selanjutnya dari modal dan kemampuan yang mereka miliki ini akan memunculkan kepercayaan diri dalam diri mereka (dengan modal dan kemampuan ini saya pasti bisa menggapai target saya). Setelah kepercayaan diri ini muncul, mereka mulai mengerahkan segala kemampuannya semaksimal mungkin untuk mengejar targetnya, namun tak jarang kalau yang mereka dapatkan hanya susah payah saja dan targetpun tidak kunjung tercapai (gagal secara dhohir dan bathin dalam mencapai target), dan ada juga yang jerih payahnya menampakkan sebuah hasil, target yang mereka inginkan benar-benar mereka capai, tapi dalam hati mereka tidak ada kepuasan yang muncul, yang mereka rasakan justru kalau target yang sudah mereka dapatkan ini masih kurang, kurang dan kurang, ibarat orang yang menginginkan sebuah mobil, setelah mobil itu didapat dia ingin mobil yang lebih bagus lagi atau ingin mobil yang lebih dari satu (sukses secara dhohir namun gagal secara bathin dalam mencapai target). Dan itulah yang banyak terjadi di sekitar kita, coba saja kita amati orang-orang di sekitar kita yang targetnya Cuma sekedar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, namun kesusah payahan yang mereka alami sangat banyak sekali. Kalau kita mau menelitinya, rata-rata penyebabnya adalah mereka terlalu mengandalkan diri sendiri dan sesama makhluk serta sangat bergantung kepada mereka.

Dan kalau kita mau membuka mata dan hati kita, kita juga akan menemukan orang-orang yang dalam mengejar suatu target, mereka sepenuhnya bersandar kepada Allah, mereka sadar kalau segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini semuanya pasti berdasarkan kehendak-Nya, apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi walaupun seluruh alam semesta saling bekerja sama untuk mencegahnya, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan pernah terjadi walaupun seluruh makhluq saling bekerja sama untuk berusaha mewujudkannya. Maka orang-orang yang semacam ini dalam mengejar targetnya, mereka akan fokus kepada upaya pendekatan diri kepada Allah dzat yang memiliki kehendak terhadap terwujud atau tidaknya semua target yang ada, upaya dhohir dalam mengejar target yang mereka lakukan hanya sekedarnya saja sebatas menggugurkan kewajiban ikhtiyar, dan hasilnya secara keseluruhan mereka pasrahkan kepada Tuhan mereka. Akhirnya mereka tidak pernah terlihat bersusah payah, namun walaupun begitu, banyak dari mereka yang berhasil mendapatkan targetnya (sukses dhohir dan bathin dalam mencapai target), namun juga ada yang secara kasat mata target mereka tidak tercapai, namun secara bathin mereka berhasil mencapainya, ibarat menginginkan sebuah mobil, mereka hanya mendapatkan sepeda, Namun hati mereka oleh Alloh dibuat tidak menginginkan mobil lagi bahkan dibuat tidak suka dengan mobil dan dibuat sangat senang dan bersyukur dengan sepeda yang dimilikinya (sukses secara bathin dalam mencapai target).

Maka dari itu jika kita mempunyai suatu keinginan/target apapun, kejarlah target itu dengan Allah, jangan dengan diri kita atau sesuatu apapun yang selain Allah, karena kalau kita mengejarnya dengan mengandalkan diri kita, Allah akan memasrahkan semuanya kepada diri kita sendiri, dan hasilnya kita cuma buang-buang waktu dan bersusah payah saja, walaupun terkadang secara hissi (kasat mata) seakan-akan kita berhasil.
Dan ketika dalam mengejar suatu target kita sudah mengandalkan Allah, bukan berarti kita tinggal duduk-duduk saja menunggu hasilnya.

Selain kita meningkatkan upaya pendekatan diri kepada Allah dan menata hati, kita juga harus melakukan usaha yang sesuai dengan apa yang Allah tunjukkan kepada kita, contoh ketika punya target harus mendapatkan uang 1 miliar untuk bayar hutang misalkan, setelah kita mendekatkan diri kepada Allah, kemudian dengan isyaroh yang sesuai dengan tingkatan kita, Allah menunjukkan kita untuk usaha jualan pisang goreng, ya sudah jalani saja itu dengan baik dan selalu husnuddzon kepada-Nya. Jangan terlalu banyak mikir! Orang mukmin itu yang dikedepankan adalah iman, bukan otak. Masih ingatkah dengan cerita Nabi Musa alaihissalam yang dikejar Fir’aun dan bala tentaranya?

Ketika Nabi Musa dan kaumnya terdesak, karena di depan mereka ada lautan yang membentang luas dan di belakang mereka ada Fir’aun dan bala tentaranya yang siap membantai mereka, pada saat itu juga Allah menyuruh Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut, secara logika ini tidak masuk akal sama sekali, harusnya yang logis adalah Nabi Musa dan kaumnya diberi sebuah kapal yang mampu membawa mereka menyeberangi lautan atau mereka dikasih bantuan pasukan langit atau senjata yang hebat yang mampu membumi hanguskan Fir’aun dan kaumnya. Namun Nabi Musa tanpa pikir panjang dengan penuh keyakinan kepada Allah langsung menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya, dan hasilnya sungguh luar biasa, lautan terbelah dan mereka bisa menyeberang dengan selamat sementara Fir’aun beserta bala tentaranya yang berusaha mengejarnya hanyut di laut. Pernah juga ada seorang Sahabat yang mengeluhkan ekonomi keluarganya yang seret kepada Rosululloh sollallohu alaihi wasallam, kemudian Rosululloh sollallohu alaihi wasallam memerintahkan kepada Sahabat tersebut untuk selalu mengucapkan salam ketika masuk ke rumahnya kemudian membaca salam yang ditujukan kepada Rosululloh sollallohu alaihi wasallam dan selanjutnya membaca surat al-Ikhlas. Sungguh saran yang tidak masuk akal, secara logika ini benar-benar tidak nyambung sama sekali, karena yang logis harusnya Sahabat ini dikasih modal untuk usaha atau diajari cara atau kiat-kiat sukses dalam berbisnis. Namun Sahabat ini tidak mengedepankan logikanya, dengan penuh keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, dia jalankan apa yang diperintahkan kepadanya, dan sekali lagi hasilnya sangat luar biasa, rizkinya seperti dituangkan dari langit bahkan saking banyaknya sampai-sampai para tetangganya terkena luapan rizki tersebut. Dan masih banyak lagi ceritanya para wali-walinya Allah yang seperti di atas.

Dari cerita di atas mungkin terbersit dalam hati kita, ahhhh… itu kan Nabi Musa…. ahhhh…. itu kan Sahabatnya Nabi…. ahhhh…. itu kan Wali…. kalau saya, saya itu siapa?…..
Sekarang coba jawab!
Tuhannya Nabi Musa itu siapa?
Tuhannya para Sahabat Nabi itu siapa?
Tuhannya para Wali itu siapa?
dan Tuhan kita itu siapa?
Kalau memang Tuhannya sama, kenapa harus ragu? Yang harus kita lakukan adalah berusaha menuhankan-Nya sebagaimana Nabi Musa, para Sahabat Nabi dan para Wali menuhankan Dia, supaya kita juga bisa memperoleh apa yang telah mereka peroleh dari-Nya.

Dari semua uraian di atas, mungkin masih ada yang protes, di hati terbersit “dalam mengejar target, saya sudah melakukan pendekatan diri kepada Allah, semua perintahnya yang wajib ataupun sunnah sudah saya kerjakan dan semua larangannya baik yang harom maupun yang sebatas makruh sudah saya tinggalkan, namun target saya tidak kunjung tercapai juga”. Kalaupun memang seperti itu adanya, pasti ada yang masih belum benar, bisa jadi itu dikarenakan kita terlalu terobsesi dengan target kita itu, sehingga fokus utama yang ada pada diri kita adalah target itu, bukan Alloh, sehingga semua usaha pendekatan diri kepada Alloh yang telah kita lakukan akan percuma dan tidak ada nilainya, karena tidak ada ikhlas di dalamnya, karena suatu amal yang tidak ada ikhlas di dalamnya itu seperti raga yang tiada bernyawa.

Kesimpulannya jika engkau punya suatu target yang ingin secepatnya engkau raih, maka kejarlah target itu dengan Allah, jangan dengan dirimu sendiri, in sya’Alloh engkau akan sukses meraihnya, minimal secara bathin, walaupun secara dhohir tidak tercapai.

Adapun tanda orang yang mengejar targetnya dengan Allah adalah, dia tidak begitu mengurusi targetnya, usaha dhohirnya cuma sekedarnya saja sesuai petunjuk dari Allah dan fokus utamanya dia cuma sibuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berusaha selalu dalam ridlo-Nya, sementara untuk hasilnya, dia benar-benar telah memasrahkannya kepada Allah dengan penuh kesadaran kalau semuanya yang telah dan akan terjadi adalah sesuai kehendaknya. Sedangkan tanda orang yang mengejar targetnya dengan dirinya sendiri adalah, di hatinya dia sangat menginginkan target tersebut, dan dia mengerahkan seluruh kemampuan yang dia miliki untuk mengejarnya dengan target harus berhasil.

Kontributor : Moh. Tuba
Editor : Abdul Aziz

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik