Waspadalah Terhadap Riya’ Yang Tersembunyi

Tidak ada komentar 962 views
banner 160x600
banner 468x60

“Sungguh yang paling aku takutkan atas kalian adalah kemusyrikan kecil. Sahabat bertanya:”  apakah gerangan kemusyrikan kecil itu wahai Rosulullah!. Beliau Saw menjawab: yaitu riya’.

Riya’ ialah melakukan suatu ibadah karena selain Allah, karena mengharap pujian dari selain Allah. Riya’ merupakan perbuatan dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah.

Riya’ dalam pandangan tashawwuf terbagi menjadi dua macam yakni “terang” dan “tersembunyi”. Untuk riya’ yang pertama (terang) mungkin kita semua mudah menemukan lalu menghindarinya. Tetapi untuk riya’ yang nomor dua (halus atau tersembunyi) sering kali kita tidak merasakannya sehingga tanpa kita sadari telah terjatuh ke dalamnya. Yang akibatnya jika kita sering melakukannya maka sangat besar kemungkinan kita akan terjatuh ke dalam lubang riya’ yang terang. Sebaimana halnya ketika kita sering melakukan dan terjatuh ke dalam hal- hal yang syubhat, maka kitapun akan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. ((Barangsiapa yang terjatuh ke dalam berbagai perbuatan syubhat maka ia (pasti) akan terjatuh ke dalam suatu perbuatan yang diharamkan. Al-Hadits). Oleh sebab itu marilah berhati-hati dari riya’ yang halus! Sebab dikhawatirkan dapat menghilangkan pahala amal dan membuat hati kita gelap gulita.

Diantara riya’ yang halus adalah menganggap bahwa ibadah merupakan sesuatu yang manis. Sebagian ulama’ menyatakan bahwa “menganggap manis terhadap perbuatan ibadah merupakan racun yang mematikan dan menggugurkan pahala amal ibadah”. Sebab andai saja tidak ada persaksian dari orang-orang lemah yang mengagungkan kedudukan para ahli ibadah di sisi manusia sebab tidak tidur beberapa malam, niscaya mereka (orang-orang yang disebut ahli ibadah) tidak akan sanggup untuk tidak tidur selama satu malam, apalagi untuk tidak tidur malam secara terus-menerus , pasti mereka takkan mampu menjalaninya.

Para ulama ahli makrifat telah bersepakat bahwa diantara tanda-tanda riya’ adalah    1).menganggap perbuatan ibadah itu sesuatu yang manis. Kenapa termasuk riya’?. Karena nafsu tidak akan menganggap lezat suatu ibadah kecuali jika ibadah tersebut sesuai dengan keinginannya. Andai saja ibadah yang kita lakukan terhindar dari keinginan nafsu, niscaya ibadah yang kita lakukan akan terasa berat bagi diri kita dengan artian tidak akan terasa manis dan lezat.

2). melakukan ibadah karena Allah dan karena selain Allah. Sayyid Abdu al-Qodir ad-Dasythuthi ra menyatakan: ” tetaplah dirimu memurnikan tujuan amalmu hanya karena Allah. Jangan engkau anggap remeh hal ini, sehingga engkau rela atas tipuan nafsumu pada dirimu yang mengakibatkan engkau binasa”. Misalnya ketika yang menjadi pendorong bagimu untuk melakukan ibadah dikarenakan dua perkara ini; 1)karena.sesuatu yang fana. 2).Dzat Yang Kekal (Allah). Maka hal ini merupakan jalan riya’ tersulit bagi orang-orang yang baru menempuh perjalananan spiritual. Karena hal demikian ini tampak remang-remang bagi mereka dan sulit menghindarinya. Berbeda dengan “riya’ murni”, maka riya’ jenis ini sudah dapat dipahami dengan berpikir ringan.

Menyikapi riya’ jenis ini (riya’ yang disebabkan memiliki dua tujuan; Yang fana dan Yang abadi), Sayyid Abdu al Qodir Ad-Dasythuthi ra memberikan pernyataan sebagai berikut: ” Apabila Yang Abadi mengalahkan sesuatu yang fana maka itu disebut riya'”.

Jika Yang abadi yang lebih dominan masih dianggap sebagai perbuatan riya’, lalu bagaimana jika Yang fana lebih dominan?. Pasti itu dianggap sebagai perbuatan syirik.

Adapun pendapat sebagian ulama’ tashawwuf yang menyatakan: ” apabila faktor pendorong yang dominan adalah Yang Abadi(Karena Allah), berarti amal tersebut karena Allah (berkategori ikhlas), pendapat ini hanya berlaku untuk orang-orang yang melaksanakan amal ibadah yang mereka tidak mampu menempuh jalan spiritual (Thoriqoh). Sedangkan seseorang yang sudah mampu menempuh jalan spiritual seperti para ulama’ yang telah berhasil mengamalkan ilmunya, maka mereka tidak berhak mendapat pengampunan(dispensasi) jika melakukan hal seperti itu.

Misalnya : ketika engkau sedang ada keperluan pada pemerintah atau pembesar. Penguasa atau pembesar tadi sedang melaksanakan sholat Jum’at atau sholat lainnya berada di shof pertama, atau di suatu tempat yang engkau tahu. Lalu engkau berusaha keras bagaimana sekiranya bisa sholat pas di sebelahnya, dengan tujuan agar keinginanmu dari penguasa tadi bisa tercapai. Bukan bertujuan agar engkau bisa melaksanakan sholat di tempat tersebut pada posisi shof pertama. Dan sudah maklum bahwa faktor yang mendorongmu untuk melakukan amal ibadah tersebut adalah tujuan yang pertama, bukan agar engkau bisa memperkuat urusan sholat.

3). Mengerjakan ibadah dengan tujuan agar bisa dekat dengan Allah. Maka amal ibadah semacam ini seperti bekerja dengan meminta upah. Penyakit inilah yang paling samar bagi seorang murid. Ketika seorang murid telah berhasil naik dan semakin dekat dengan sisi Allah, maka dikatakan padanya ;” kembalilah, engkau bukanlah ahlinya. Sesungguhnya ahlinya adalah seseorang yang beribadah kepada Allah karena melaksanakan perintah Allah dan memenuhi kewajibannya terhadap hak-hak Allah.

4). Memberikan pengakuan bahwa dirinya telah mencapai berbagai maqom spiritual, sebelum ataupun sesudah berhasil mencapainya. Sementara ia belum memperoleh izin untuk memperlihatkannya pada orang lain. padahal ia belum mendapatkan restu untuk memperlihatkannya. Sebagai hukuman atas pengakuannya tersebut ia tidak tidak akan bisa mencapai kembali maqom spiritual yang pernah ia capai, untuk selamanya, seperti yang telah terbukti.

5). Senang memperlihatkan apapun yang dilakukan pada orang lain, ibadah atau bukan. Mengenai hal ini, Syeikh Abu alHasan asSyadzili ra mengatakan: ” salah satu hal yang paling berbahaya bagi para murid thoriqoh adalah banyak mengerjakan amal kebajikan dengan harapan semoga ia akan mendapatkan pujian atas amal kebajikan yang banyak itu.  Karena ia hanya akan semakin bertambah jauh dari hadirat Allah dan semakin bertambah murka Allah atas dirinya”.

Hal ini tidak diketahui oleh kebanyakan murid thoriqoh. Oleh sebab itu agar para murid terhindar darinya, para mursyid mewajibkan mereka untuk menyembunyikan dan merahasiakan amal ibadah yang mereka lakukan semampu mereka sampai jiwa mereka benar-benar kuat dan kokoh.

Beliau (Syeikh Abd al-Qodir ad-Dasythuti ra juga menyatakan: ” terkadang seorang murid mengerjakan sesuatu yang terpuji. Dan ia tidak bermaksud mendapatkan pujian. Namun kemudian ia menyangka bahwa dirinya seorang yang ikhlas, padahal sebenarnya ia adalah seorang yang riya’. Demikian ini seperti ketika ia menolak pemberian dari orang lain untuk menjaga kehormatan dan harga diri (ta’afffufan). Karena sikap yang baik tersebut, orang-orang memujinya. Kemudian ia (si murid) mengarahkan pendengarannya terhadap pujian mereka. Akhirnya kembalilah amal yang ia lakukan menjadi amal yang riya’ sekalipun sejak awal ia tidak ada maksud untuk mencari pujian mereka.

6). Meninggalkan amal ibadah karena manusia.

Dalam hal ini Syeikh Fudlail Ibn Iyad ra mengatakan: ” meninggalkan suatu amal ibadah karena manusia adalah perbuatan riya’. Dan melakukannya karena manusia merupakan perbuatan syirik”. Ikhlas adalah jika Allah menyelamatkanmu dari kedua hal tersebut”.

Apakah artinya?. Artinya adalah seseorang yang dalam hatinya telah bertekad (berniat) untuk melakukan suatu ibadah tapi kemudian ia tidak jadi melakukannya karena khawatir dilihat oleh oleh orang lain maka sebenarnya ia merupakan seorang yang berperilaku riya’. Karena ia telah meninggalkan suatu ibadah karena orang lain. Adapun jika ia meninggalkannya untuk kemudian ia lakukan di tempat yang sepi, maka hal ini dianjurkan kecuali berupa sholat wajib atau zakat wajib. Atau jika ia merupakan seseorang yang diikuti oleh orang banyak, maka ketika demikian lebih utama apabila ia lakukan amal ibadah tersebut dengan terang-terangan.

7). Menceritakan kebaikan yang telah dilakukan di masa lalu yang tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali ada kepentingan syar’i.

Menceritakan kebaikan- kebaikan masa lalu jika dilakukan tanpa adanya tujuan syar’i dapat mengembalikan kebaikan tersebut pada kondisi sama dengan berperilaku riya’ pada saat melakukannya. Sayyid Ali al-Khawwas ra pernah berpesan pada murid-muridnya:” Hindarilah perbuatan memperdengarkan amal kebaikan kalian karena perbuatan tersebut dapat menggugurkannya persis sama dengan riya’ seperti yang telah diterangkan oleh hadits Nabi Saw. Hanya saja memperdengarkan amal itu masih ada obatnya yaitu hendaklah seorang hamba Allah menyesalinya lalu bertaubat dengan taubat yang benar bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatannya. Sebab taubat yang benar dapat menghapus dosa akibat kesalahan tersebut. Ketika ia sudah bertaubat dengan benar maka kembalilah amal kebaikan yang telah teracuni oleh penyakit riya’ kembali pada kondisi semula yakni sehat kembali dengan izin Allah.

8). Menghentikan guyonan yang diperbolehkan oleh syara’ ketika datang seseorang yang ia merasa malu kepadanya (yang disegani). Tentang hal ini Syeikh Fudloil Ibn Iyad ra mengatakan:” andai dikatakan kepadamu bahwa amiirul mukminin akan mendatangiku saat ini juga, lalu aku rapikan jenggotku dengan tanganku, sungguh aku takut namaku akan ditulis di dalam buku keterangan golongan orang-orang munafik”. Maka janganlah engkau hentikan gurauan mubahmu wahai saudaraku karena datangnya seseorang kepadamu kecuali dengan niat yang baik. Sebab pelanggaran terhadap aturan, oleh seorang hamba di dekat orang yang ia segani lebih baik daripada melakukan sifat kemunafikan.

9). Semakin menundukkan kepala dan kekhusyuan (konsentrasi) karena datangnya seorang pembesar ataupun yang lain. Sayyid Ali al Khawwas ra mengatakan:” apabila datang pada kalian seorang amir sementara di tangannya ada tasbih yang sedang ia pakai untuk bertasbih kepada Allah maka janganlah tasbih tersebut tetap di tangannya kecuali dengan niat yang baik.Dan hendaklah ia hindari duduk sambil tertawa sedangkan ia lalai kepada Allah. Lalu datanglah kepadanya seorang raja. Kemudian ia ambil tasbih tadi dan ia bertasbih dengannya kecuali dengan niat yang baik untuk menjauh jangan sampai terjatuh ke dalam perbuatan riya’ yang menggugurkan amal kita”.

Selain hal-hal tersebut di atas, masih banyak riya’  halus dan tersembunyi yang di bahas dalam berbagai kitab. Wallahu a’lam.

Redaktur: Farid Tumyadi
Editor Ach. Hafsin

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik