Hari Santri Nasional

1 komentar 849 views
banner 160x600
banner 468x60

Hari Santri Nasional

Oleh: Muhammad Ismail al-Ascholy*

22 Oktober 1945, Resolusi Jihad dikumandangkan oleh kiai Hasyim Asy’ary, untuk perang melawan penjajah yang menjarah bumi pertiwi, membela tanah air dan menjaga persatuan Indonesia, yang berbunyi:

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)….”

Sejak tahun 2015 kemarin Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari Santri Nasional, sebagai cara untuk mengenang jasa para santri dan kiai pejuang, dengan membangkitkan semangat juang pemuda santri Indonesia, ya…!, hanya santri Indonesia.

Mari mengenang mereka, agar semua itu bisa hayat di jiwa-jiwa kita yang hampir jadi mayat.

Kenapa waktu itu Allah memilih pejuang Indonesia adalah santri? Bukankah mereka tidak berkekuatan, tidak pandai mengasah senjata, tidak mahir dalam strategi perang?

Biasakanlah berpikir dengan al-Qur’an, karena dia adalah pedoman, semuanya ada di dalam al-Qur’an. Maka Allah menjawabnya di surat at-Taubah ayat 112:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Maksudnya, orang-orang yang berperang di jalan Allah harus memiliki 9 sifat ini, karena dengannya kedamaian akan diraih. Tanpa 9 sifat ini, manusia akan kacau, baik indiviual maupun sosial. Adapun 9 sifat yang dimaksud adalah:

  1. At-Taibun: suka taubat. Setiap bersalah pasti langsung taubat, gunanya apa nanti dalam berperang? Ternyata dengan taubat dapat mencegah kesombongan, sehingga bisa patuh terhadap titah kiai yang merupakan istimbath dari Kalam Allah, dan menghancurkan nafsu agar jihadnya bukan karena tujuan dan keinginan lain sehingga bisa fokus dalam berperang.
  2. Al-Abidun: suka ibadah. Saat diri sudah tidak memiliki keinginan terselubung karena sudah sering bertaubat, ia kembali kepada Allah dengan mengerjakan ibadah, mengetuk pintu rahmat-Nya karena ia sudah yakin bahwa pertolongan itu murni dari Allah dan manusia wajib beribadah pada-Nya. Jadi semua yang ia lakukan diniati ibadah dan lillahi ta’ala.
  3. Al-Hamidun: suka bertahmid. Di hatinya nampak luapan bangga bahwa ia punya Tuhan yang Maha Kasih, yaitu Allah Swt. Sehingga ia bersyukur, terima dengan balasan kebaikan dari-Nya, hati selalu mengharap pertolongan-Nya dan lisan tak kering untuk memuji-Nya. Buat apa memuji? Agar engkau punya hati yang selalu menganggap-Nya baik. Bayangkan ada seorang santri yang kiainya kaya raya, lalu suatu hari tanpa sebab tanpa kenal ia diberi uang seratus ribu saja, dan hanya dia yang diberi. Maka pada saat itu muncul di hatinya bahwa kiai ini baik, si santripun dengan bangga memamerkan kebaikan kiainya “duhai sungguh kiai sangat baik” padahal seratus ribu hanya secuil dari miliyaran kebaikannya. Nah dari situ sang kiai pasti memandang santri yang girangnya bukan main itu, sehingga jika suatu saat beliau tau ia kesulitan pasti ditolong olehnya. Itu kiai, bagaimana Allah?
  4. As-Saihun: suka berpuasa. Lebih umumnya ia adalah orang yang suka mengalahkan egonya untuk kemaslahatan umum, caranya dengan memperbanyak pengalaman hidup. Jadi mereka tegas namun tidak beringas, mereka lembut tapi tidak penakut. Menahan ego ini adalah bukti bahwa saat ia memamerkan kebaikan Allah ia tidak sama sekali menganggap dirinya punya ‘kelebihan’ sehingga ‘pantas’ untuk diberi sesuatu oleh-Nya. Ikrimah menafsirkannya dengan: “santri” karena santri itu jauh dari rumah, ahli tirakat, ibadah, dan belajar. Dan benarlah bahwa santri saat itu adalah pejuang-pejuang bangsa.
  5. Ar-Roki’un: ahli rukuk. Bukan ahli rokok, tapi ahli takdzim, egonya yang ia kekang akhirnya lembut sehingga mudah menghormati dan tidak keras hati.
  6. As-Sajidun: ahli sujud. Maksudnya 5 dan 6 ini sebenarnya suka mengerjakan sholat. Tapi jika dipandang lebih spesifik, maka muncullah pemikiran bahwa pengalaman hidup yang ia jalani mulai dari kecil hingga menjadi santri, hingga kini, adalah perjalanan seorang hamba di sekeliling taman istana tuannya. Kapanpun dimanapun, sujud terwujud, yakni jiwa yang menghamba.
  7. Al-Amiruna bil ma’ruf. Nah setelah diri sendiri melewati hal-hal diatas, maka ia suka mengingatkan kawannya yang sebenarnya belum mengerti tentang Allah, diajaknya dengan lembut, digauli dengan patut, bercandanya secara ilmiyah sehingga kawannya jadi tau kisah-kisah yang menggugah. Dan jika bertemu keburukan maka
  8. An-Nahuna ‘anil munkar. Jika dibayangkan dalam sebuah perkumpulan 100 orang ada 70 saja yang bersifat begitu, maka yang 30 akan malu jika berbuat yang aneh-aneh, kecuali memang dia bukan termasuk pasukan. Dan yang terakhir adalah
  9. Al-Hafidun bi hududillah: menerapkan batasan-batasan yang Allah tetapkan. Tidak hanya sekali dua kali mereka bersifat dengan sifat diatas, tapi sampai mati 9 hal ini menjadi pedoman hidup sehingga merasuk ke dalam jiwa.

Kiai Hasyim tau akan hal ini, karena beliau sendiri terdidik sejak kecil agar mengabadikan 9 peraturan hidup untuk bisa menjadi tentara Allah. Itu adalah latihan, maka sebagai seorang komandan bagi santri-santrinya, beliau terus melestarikannya pada mereka, bahkan sampai keluar pesantren.

Itulah sebabnya saat ini sedang marak tren #ayomondok, karena pondok-lah yang mengatur kehidupan anak menjadi berkarakter. Tapi bukan berarti selain santri bukan tentara Allah, tidak…, Santri, kata Gus Mus, bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri. Sebaliknya, siapapun yang tidak berakhlak seorang santri, walaupun dia nyantri, dia bukanlah santri.

Untuk itu, dengan adanya hari santri nasional jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran hari ini untuk mencapai keberhasilan di masa depan. Persiapkanlah wahai santri ataupun alumni pesantren se-Nusantara untuk menjadi tentara Allah, untuk melawan fitnah besar yang akan datang esok, dengan melihat sejarah, karena kelak semoga kita semua menjadi pembela al-mahdi dan berada di barisan-Nya. Amin.

*Adalah penulis muda yang telah menghasilkan beberapa literatur berbahasa arab diantaranya; Kharaidul Faraid | al-Nigham Li Dzawil Gham | Rowaihur Roihan | Izharun Na’im | Badrul Fadlil Mutalali dan lain-lain.

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik