Merefleksi Kembali Kejayaan Santri Yang Hampir Pudar

foto : https://x.detik.com/detail/intermeso/20160518/10-Pahlawan-Santri-/images/bumper-ok-sowumr.png

Dideklarasikannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015 yang lalu oleh Presiden RI Ir. H. Joko Widodo di Masjid Istiqlal Jakarta yang disaksikan oleh ribuan santri, para alim ulama dan para pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah, ini merupakan momentum bersejarah bagi kaum santri karena keterlibatan para santri dan peran pentingnya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal ini merupakan keputusan yang tepat untuk tidak mengabaikan sejarah tentang peran kaum santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Peran besar itu ditandai dengan seruan jihad oleh para Ulama NU yang  tertuang dalam Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian dari rangkaian panjang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Fatwa jihad itu kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio disertai dengan teriakan Allahu Akbar sehingga berhasil membangkitkan semangat juang kalangan santri untuk melawan penjajah.

Bacaan Lainnya

Bukti sejarah telah tertorehkan, sebuah bukti nyata adanya keterkaitan antara santri dengan berdiri tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari santri merupakan wujud penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan kiai dan santri yang selama ini, kiprah mereka secara struktural ditenggelamkan dari khasanah kesejarahan bangsa. Padahal, dinamika bangsa ini, dalam kondisi apapun, tidak pernah terlepas dari keterlibatan para santri.

Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan tafaqquh fiddin merupakan unsur terpenting dalam dinamika historis bangsa Indonesia. Sebagaimana diakui oleh salah satu pahlawan nasional dr. Soetomo: “Pesantren adalah konservatorium patriotisme dan nasionalisme Indonesia. Andaikan tidak ada pesantren, andai kata tokoh-tokoh Indonesia hanya mendapat pendidikan dari barat, kiranya sulit mengajak mereka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia”.

Salah satu peran penting pesantren dalam sejarah bangsa Indonesia adalah keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah. Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Bambu runcing yang terkenal sebagai senjata para pejuang kemerdekaan adalah inisiatif dari Kiai Subki (wafat 1958) yang kemudian diabadikan sebagai nama pesantren, yakni Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Beliau merupakan tokoh NU pejuang kemerdekaan yang sekaligus guru dari Jendral Soedirman.

Sejarah santri sebagaimana yang tercatat di beberapa buku sejarah terkait perobekan bendera Belanda akankah masih menjadi misteri? Tentu saja tidak. Beberapa versi menyebutkan, semisal Khiorul Anam dalam artikelnya berjudul “Berebut Jihad” (2013), bahwa penyobekan warna biru pada bendera merah-putih-biru yang berkibar di hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit) dilakukan oleh Cak Asy’ari, anak muda Ansor. Pembunuhan Jenderal Mallaby oleh seorang santri Tebuireng hingga memuncak pada peperangan besar 10 November 1945.

Berbeda dengan Ahmad Mundzir dan Nurcholis dalam buku “Perjalanan NU Tuban” (2014), Berdasarkan kesaksian dari KH Moertadji (alm), perobek bendera itu bernama Mbah Mukri, seorang Nahdliyyin dari Makam Agung Tuban. Kiai Moertadji yang di kemudian waktu menjadi Rais Syuriyah PCNU Tuban (1983-1984), mendengarkan keterangan langsung dari Mbah Mukri, bersama dengan para saksi lainnya.

Sebagai ikhtitam,  penulis mengutip bahasa dari penulis buku “Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” dan “Masterpiece Islam Nusantara”, Zainul Milal Bizawie. Bahwa hari santri adalah wujud dari kewajiban negara dan pemimpin bangsa untuk memberikan penghormatan kepada sejarah pesantren, sejarah perjuangan para kiai dan santri.

Kontribusi pesantren kepada negara ini, sudah tidak terhitung lagi. Hari Santri Nasional dapat dijadikan sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari episteme bangsa. Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi juga berdiri tegak oleh keikhlasan jiwa para santri yang religius yang dalam batinnya mengalir spirit merah putih; keberanian dan ketulusan.

 Redaktur: Rofi el-ponty
Editor : Farid Tumyadi

Rujukan Penulisan:

  • H. Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung, 1981.
  • C. Ricklefs dalam, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Serambi, Jakarta, 2005.
  • Ahmad Mundzir dan Nurcholis, Perjalanan NU Tuban, 2014.
  • Beberapa artikel dari Media NU Online dan Muslim Moderat.Net
  • Agus Muhammad (pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama), Artikel: Pesantren, Kemerdekaan dan Keindonesiaan, 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.