Jadikan semua yang kita lakukan bernilai ibadah!

banner 160x600
banner 468x60

“dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan hanya agar mereka beribadah kepadaKu” (alQur’an)
Wahai saudaraku, tinggalkanlah segala perkara yang mubah bagimu agar engkau bisa naik pada maqom spiritual yang tinggi!

Sayyid Ali Al-Murshifi ra berkata:”Seorang murid takkan bisa memiliki pijakan dalam keinginannya untuk mencapai makrifatullah, sebelum ia bisa meninggalkan semua perbuatan mubah dan setiap perbuatan mubah yang ia tinggalkan ia gantikan dengan perbuatan yang diperintahkan oleh Syara’ berupa perbuatan sunnah atau perbuatan yang lebih utama.

Selain itu, ia juga harus meninggalkan perbuatan mubah seakan-akan perbuatan mubah tersebut adalah perbuatan yang dilarang secara makruh tanzih”.
Para ulama ahli Thoriqoh telah mufakat bahwa setiap orang yang mempermudah dirinya dalam melakukan rukhshoh, dengan arti tidak memilih untuk dirinya hukum yang tegas, ia tidak akan bisa memilki sedikitpun bagian dalam perjalanan spiritualnya (thoriqoh).

Sayyid Ali al-Khowwas ra menyatakan; ” Allah tidak menjadikan perbuatan mubah melainkan hanya untuk melepaskan bani Adam dari kemasyaqqotan (ketidak nyamanan) akibat beban taklif, karena memang Allah menjadikan dalam tubuh manusia rasa bosan atas beban taklif. Kalau saja Allah tidak menjadikan rasa bosan di dalam tubuh manusia, niscaya Dia tidak akan mensyari’atkan (memberlakukan) perkara mubah bagi manusia, sebagaimana halnya Allah memperlakukan para malaikat. Sebab para malaikat tidak pernah mengenal rasa bosan. Oleh karena itulah siang malam para malaikat tak bosan-bosan bertasbih mensucikan Allah SWT.

Sayyidi Ali al-Khawwas dalam kesempatan yang lain mengatakan; ” ketika kondisi kaum Ahlitthoriq (para mursyid) terbiasa mengambil hukum yang tegas, tidak mengambil kemurahan syara’ karena berharap bisa naik pada maqom spiritual yang lebih tinggi, seperti yang kita tahu bersama tentang kondisi para Masyayikh (al-Mursyiduun), maka mereka menuntut murid-muridnya supaya meminimalkan perbuatan mubah dengan sekuat tenaga. Dan menuntut murid-muridnya agar menggantikan perbuatan mubah tersebut dengan perbuatan taat (ibadah) agar mereka (para murid) mendapatkan pahala. Apabila para murid tidak bisa menemukan perbuatan taat yang bisa dilakukan, maka hendaknya niatkan perbuatan mubah yang akan mereka lakukan, seperti makan dan berbicara, sebagai pengantar untuk berbuat kebaikan. Misalnya niat agar kuat beribadah dengan makan makanan yang ia inginkan, niat menghilangkan kesedihan hati saudara mukmin dan menggantinya dengan keceriaan hati dengan berbicara pada mereka atau dengan cara yang lain.

Adapun mengenai mengapa para Mursyid menghukum murid mereka karena mereka tidur, hukuman itu mereka lakukan ketika para murid tidur sebelum benar-benar membutuhkan tidur, menghukum mereka karena mereka makan adalah ketika mereka makan sebelum lapar, menghukum mereka karena berbicara adalah ketika mereka belum butuh untuk bicara, menghukum mereka karena bergaul dengan orang banyak , adalah ketika mereka tidak benar-benar butuh untuk bergaul. Demikian ini dilakukan semata-mata karena para mursyid ingin agar murid-murid mereka bisa mendulang pahala seperti pahala ibadah wajib dalam semua situasi dan kondisi. Sehingga mereka makan pada saat mereka wajib makan, mereka berbicara ketika mereka dalam situasi wajib berbicara. Apabila mereka mengalami penurunan dengan artian tidak mampu menjadikan hal-hal yang pada dasarnya mubah menjadi wajib, maka janganlah sampai turun pada kondisi di bawah sunnah (minimal turun pada kondisi sunnah)sehingga mereka makan ketika kondisi disunnahkan makan, berbicara ketika memang disunnahkan untuk bicara.

Demikian pula yang dilakukan oleh para mursyid terhadap murid-muridnya ketika mereka mengalami lupa, mimpi basah, berselonjor kaki di waktu malam ataupun siang hari kecuali memang butuh untuk berselonjor. Dan para mursyid juga menghukum murid-murid mereka karena terlintas di hati mereka bisikan -bisikan yang buruk sekalipun hal tersebut belum menetap di hati mereka. Dan menghukum para murid karena telah memakan makanan enak yang boleh dimakan. Para mursyid melakukan hal tersebut kepada murid-murid adalah Karena semua itu dapat menghambat para murid untuk naik pada maqom spiritual di atasnya.
Dalam kitab Zabur dinyatakan:”يا داود حزر وانزر قومك عن اكل الشهوات فان قلوب اهل الشهوات محجوبة عني
Artinya: wahai Daud, peringatkan kaummu jangan sampai makan makanan yang disenangi oleh syahwat, karena hati orang-orang yang ahli (menuruti) syahwat terhijab dariKu”.

Sebagaimana halnya aklu as-Syahawat (makan sesuai selera) dapat menjauhkan seorang hamba dari sisi Allah SWT. Begitu pula halnya menselonjorkan kaki ketika kondisi tidak dibutuhkan. Dengan kesamaan dua hal tersebut sama-sama menunjukkan” buruknya pekerti”.

Beliau (Sayyid Ali al-Khowwas ra) juga menyatakan :” Seorang murid tidak akan bisa mencapai maqom “Siddiq” sebelum ia bisa semakin mengagungkan perintah Allah dan laranganNya. Sehingga kemudian ia melakukan sesuatu yang sunnah seakan-seakan itu wajib baginya, menjauhi perbuatan yang makruh seakan-akan haram baginya, menjauhi sesuatu yang haram seakan-akan itu sebuah kekufuran, melakukan semua hal yang mubah dengan niat yang baik agar bisa mendapatkan pahala. Sehingga dengan tidur qoilulahnya ia niat agar kuat melaksanakan sholat malam, dengan mengkonsumsi sebagian makanan sesuai selera ia niatkan untuk mengobati atau meredam pemberontakan nafsunya pada saat nafsunya hendak melarikan diri untuk meninggalkan ibadah secara keseluruhan. Sebab lidah nafsu berkata pada pemiliknya :”tetaplah engkau bersamaku dalam sebagian keinginanku. Jika engkau menolak, maka aku akan menjungkalkanmu!.
Begitu pula seorang murid ketika memakai pakaian yang mewah hendaknya berniat untuk memperlihatkan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, bukan untuk sekedar memenuhi bagian nafsunya. Demikian pula hendaknya ia makan makanan yang enak, meminum minuman yang dingin manis dengan niat agar anggota tubuhnya dengan tekad yang kuat mau bersyukur kepada Allah SWT.

Inilah yang pernah dilakukan oleh syeikh Abu al-Hasan as-Syadzili ra . Beliau pernah berkata kepada para muridnya :” makanlah makanan terbaik dan minumlah minuman terlezat. Tidurlah di atas ranjang terempuk dan pakailah pakaian yang terhalus. Karena sesungguhnya salah satu dari kalian apabila melakukan hal tersebut lalu mengatakan الحمد لله; maka Seluruh anggota tubuhnya dengan gembiranya bersedia untuk bersyukur kepada Allah. Berbeda dengan ketika ia memakan roti gandum dengan selai garam, berpakaian lusuh atau ketika ia tidur beralaskan tanah dan meminum air asin yang getir. Maka ketika ia berucap” الحمد لله”، maka ia mengucapkan kalimat syukur tersebut dalam keadaan di dalam dirinya bersemayam benih-benih rasa bosan dan gejolak sedikit ” kemarahan ” atau ketidakpuasan terhadap apa yang ditaqdirkan kepadanya oleh Allah. Andai saja ia melihat dengan mata hatinya, niscaya ia akan mengetahui bahwa “perasaan bosan dan rasa ketidakpuasan” yang ada pada dirinyalah yang dapat memperbanyak dosa, melebihi seseorang yang secara jelas bersenang-senang dengan dunia. Sebab seseorang yang bersenang-senang dengan dunia dengan melakukan sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah SWT. Sedangkan seseorang yang dalam dirinya terdapat perasaan bosan dan ketidakpuasan terhadap apa yang ditaqdirkan oleh Allah, ia benar-benar telah melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Na’uudzu billaahi min dzaalik

Penulis : Farid Tumyadi, S.Pd.I
Editor : Ahmad Hafsin, S.Pd.I

author
Zaen: Sebagai admin asschoLmedia.net kami selalu berupaya memberikan yang terbaik berupa informasi-informasi faktual dan terpercaya serta kajian keislaman yang otentik